Vaksinasi Polio Pada Bayi : Jadwal, Jenis dan Efek Sampingnya

Spread the love

Vaksinasi Polio Pada Bayi : Jadwal, Jenis dan Efek Sampingnya

Vaksin virus polio adalah agen imunisasi aktif yang digunakan untuk mencegah poliomyelitis (polio). Ia bekerja dengan membuat tubuh Anda menghasilkan perlindungan sendiri (antibodi) terhadap virus penyebab polio. Ada dua jenis vaksin polio yang diberikan melalui suntikan yaitu vaksin poliovirus inactivated (IPV) dan vaksin poliovirus inactivated enhancement potency (eIPV). Di AS dan Kanada, jenis vaksin yang diberikan melalui suntikan adalah eIPV. Jenis vaksin yang diberikan melalui mulut disebut vaksin poliovirus live oral (OPV).

Vaksin polio terdiri dari 2 jenis , yaitu Vaksin Virus Polio Oral (Oral Polio Vaccine=OPV) dan Vaksin Polio Inactivated (Inactived Poliomielitis Vaccine). Sejak tahun 1997 American Academy of Pediatric (AAP) dan Centers For Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan pemberian IPV untuk vaksinasi rutin pada semua bayi di Amerika Serikat. Sejak itu dilaporkan Kejadian Ikutan Paska Imunsasi Polio sangat menurun. Diperkirakan setiap 2,5 dosis OPV yang diberikan dapat mengalami kasus Paralitik Poliomielitis (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis atau VAPP). VAPP merupakan kejadian lumpuh layu akut (AFP) 4 – 40 hari setelah diberikan vaksin OPV dengan sekuele neurologis susulan yang mirip dengan polio setelah 60 hari.

Polio adalah infeksi sangat serius yang menyebabkan kelumpuhan otot, termasuk otot yang memungkinkan Anda berjalan dan bernapas. Infeksi polio dapat membuat seseorang tidak dapat bernapas tanpa bantuan paru-paru besi, tidak dapat berjalan tanpa penyangga kaki, atau harus menggunakan kursi roda. Tidak ada obat untuk polio.

Infeksi polio terjadi di seluruh dunia, di Amerika Serikat tranmisi virus polio liar berhenti sekitar tahun 1979. Di negara-negara barat, eliminasi polio sejak tahun 1991. Program eradikasi Polio Global dapat menurunkan secara dramatis angka kejadian polio liar diseluruh belahan dunia, kecuali India, Timur Tengah dan Afrika. Di Indonesia tampaknya masyarakat dibuat panik dengan timbulnya kasus polio yang sudah hampir 10 tahun tidak pernah dilaporkan.

Penyebab penyakit ini adalah virus Polio yang terdiri dari 3 strain yaitu strain 1 (brunhilde), strain 2 (Lanzig) dan strain 3 (Leon). Strain 1 seperti yang ditemukan di Sukabumi adalah yang paling paralitogenik atau paling ganas dan seringkali menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. Virus Polio termasuk genus Enteroviorus, famili Picornavirus. Penularan terutama terjadi penularan langsung dari manusia ke manusia melalui fekal-oral (dari tinja ke mulut) atau yang agak jarang lainnya melalui oral-oral (dari mulut ke mulut). Tampaknya pencegahan terbaik penularan penyakit ini adalah dengan melakukan Imunisasi Polio.

BACA  Benarkah Imunisasi Bayi Tidak Bermanfaat ?

Rekomendasi Vaksinasi Polio

  • Imunisasi terhadap polio dianjurkan untuk semua bayi dari usia 6 sampai 12 minggu, semua anak, semua remaja sampai dengan usia 18 tahun, dan orang dewasa tertentu yang memiliki risiko lebih besar untuk terpapar virus polio daripada populasi umum, termasuk:
  • Imunisasi terhadap polio tidak dianjurkan untuk bayi di bawah usia 6 minggu, karena antibodi yang mereka terima dari ibu mereka sebelum lahir dapat mengganggu keefektifan vaksin. Bayi yang diimunisasi polio sebelum usia 6 minggu harus menerima rangkaian imunisasi polio lengkap.
  • Vaksin ini harus diberikan hanya oleh atau di bawah pengawasan dokter Anda atau ahli perawatan kesehatan lainnya.
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Departemen kesehatan mengeluarkan rekomendasi pemberian Polio termasuk imunisasi yang diwajibkan atau masuk Pengembangan Program Imunisasi (PPI). Imunisasi polio yang harus diberikan sesuai dengan rekomandasi WHO adalah diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu. Kemudian diulang usia 1½ tahun, 5 tahun dan usia 15 tahun atau sebelum meninggalkan sekolah. Dalam keadaan adanya Kejadian Luar biasa Polio, maka dilakukan Mopping Up. Artinya, strategi untuk memberikan ulangan Polio pada semua anak di bawah usia 5 tahun di daerah tersebut meskipun imunisasi sebelumnya telah lengkap.

Vaksin polio terdiri dari 2 jenis , yaitu

  • Vaksin Virus Polio Oral (Oral Polio Vaccine=OPV)
  • Vaksin Polio Inactivated (Inactived Poliomielitis Vaccine).

Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV)

  • Di Indonesia, meskipun sudah tersedia tetapi Vaksin Polio Inactivated atau Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV) belum banyak digunakan. IPV dihasilkan dengan cara membiakkan virus dalam media pembiakkan, kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan pemanasan atau bahan kimia. Karena IPV tidak hidup dan tidak dapat replikasi maka vaksin ini tidak dapat menyebabkan penyakit polio walaupun diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh yang lemah. Vaksin yang dibuat oleh Aventis Pasteur ini berisi tipe 1,2,3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid.
  • Selain itu dalam jumlah sedikit terdapat neomisin, streptomisin dan polimiksin B. IPV harus disimpan pada suhu 2 – 8 C dan tidak boleh dibekukan. Pemberian vaksin tersebut dengan cara suntikan subkutan dengan dosis 0,5 ml diberikan dalam 4 kali berturut-turut dalam jarak 2 bulan.
  • Untuk orang yang mempunyai kontraindikasi atau tidak diperbolehkan mendapatkan OPV maka dapat menggunakan IPV. Demikian pula bila ada seorang kontak yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah maka bayi dianjurkan untuk menggunakan IPV.
  • Sejak tahun 1997 American Academy of Pediatric (AAP) dan Centers For Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan pemberian IPV untuk vaksinasi rutin pada semua bayi di Amerika Serikat. Sejak itu dilaporkan Kejadian Ikutan Paska Imunsasi Polio sangat menurun.
BACA  Cara Pemberian Berbagai Vaksin Imunisasi Pada Bayi

Oral Polio Vaccine (OPV) dan Paralitik Poliomielitis (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis atau VAPP).

  • Jenis vaksin Virus Polio Oral atau Oral Polio Vaccine (OPV) ini paling sering dipakai di Indonesia. Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan melalui mulut. Vaksin ini terbuat dari virus liar (wild) hidup yang dilemahkan. OPV di Indonesia dibuat oleh PT Biofarma Bandung. Komposisi vaksin tersebut terdiri dari virus Polio tipe 1, 2 dan 3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dalam sucrosa. Tiap dosis sebanyak 2 tetes mengandung virus tipe 1, tipe 2, dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin tidak lebih dari 2 mcg dan kanamisin tidak lebih dari 10 mcg
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *