KLINIK BAYI ONLINE

Bayi Baru Lahir Dengan Ibu Infeksi Tuberkulosis (TB) Paru

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit global dengan peningkatan keprihatinan dengan meningkatnya morbiditas dan mortalitas setelah resistansi obat dan koinfeksi HIV. Penularan penyakit dari ibu ke bayi sudah diketahui dengan baik. Rekomendasi saat ini mengenai manajemen bayi baru lahir dari ibu dengan tuberkulosis bervariasi di berbagai negara dan memiliki kesenjangan yang besar dalam pengetahuan dan praktik. Kami membandingkan dan meringkas rekomendasi terkini tentang manajemen bayi yang lahir dari ibu dengan tuberkulosis. Tuberkulosis kongenital didiagnosis dengan kriteria Cantwell dan pengobatannya mencakup tiga atau empat rejimen obat anti tuberkular. Profilaksis dengan isoniazid (3-6 bulan) dianjurkan pada neonatus yang lahir dari ibu dengan TB yang menular. Pemberian ASI harus dilanjutkan pada neonatus ini dan isolasi dianjurkan hanya sampai ibu terinfeksi, menderita TBC yang resistan terhadap beberapa obat atau tidak patuh pada pengobatan. Vaksin BCG dianjurkan saat lahir atau setelah profilaksis selesai (3-6 bulan) pada semua neonatus.

Bayi Dilahirkan Ibu dengan infeksi Tuberkulosis (TB) Paru
Terdapat sekitar 11,9 juta kasus TB Paru di dunia (WHO). Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam jumlah kasus baru TB (0,4 juta kasus) menurut WHO tahun 1994. Jumlah kasus TB di tujuh Rumah Sakit Pusat Pendidikan di Indonesia (1998-2002) adalah 1086 dengan kelompok usia terbanyak adalah 12-60 bulan (42,9%) sedangkan bayi <12 bulan sebanyak 16,5%. Kejadian tuberkulosis (TB) kongenital jarang terjadi.

Ibu hamil dengan infeksi TB pada paru saja tidak akan menularkannya ke janin sampai bayi lahir. Mekanisme infeksi intrauterin dapat melalui beberapa cara yaitu penyebaran secara hematogen melalui vena umbilikalis atau aspirasi cairan amnion yang terinfeksi
(TB kongenital), transmisi melalui proses persalinan (TB natal), dan TB pascanatal terjadi akibat penularan secara droplet. Ada 5 faktor yang menyebabkan peningkatan TB pada
anak dan dewasa muda yaitu epidemi HIV (human immunodeficiency virus), terjadinya imigrasi dari daerah yang risiko tinggi terjadi TB ke daerah yang risiko rendah, peningkatan transmisi terutama pada fasilitas kesehatan, terjadi multidrug-resistant TB, dan penurunan pelayanan kesehatan pada penderita TB.

Penularan TB dari ibu ke bayi

Infeksi kongenital melalui penularan vertikal TB digambarkan dengan penularan transplasenta melalui vena umbilikalis ke hati dan paru-paru janin; atau aspirasi dan menelan cairan ketuban yang terinfeksi dalam rahim atau intrapartum yang menyebabkan infeksi primer pada paru-paru dan usus janin. Infeksi transplasenta terjadi pada akhir kehamilan dan aspirasi dari cairan ketuban terjadi pada periode perinatal. Kriteria diagnostik yang digunakan untuk tuberkulosis kongenital seperti yang dijelaskan oleh Beitzke pada tahun 19353 dan direvisi oleh Cantwell dkk pada tahun 19944. Cantwell dkk mengusulkan diagnosis tuberkulosis kongenital dengan adanya penyakit tuberkulosis yang terbukti dan setidaknya salah satu dari berikut ini; (i) lesi pada bayi baru lahir selama minggu pertama kehidupan; (ii) kompleks hati primer atau granulomata hati kaseosa; (iii) infeksi tuberkulosis pada plasenta atau saluran genital ibu; dan (iv) mengesampingkan kemungkinan penularan pascanatal melalui investigasi kontak, termasuk staf rumah sakit. Pada bayi baru lahir yang didiagnosis TB, penyebaran horizontal pada periode pascapersalinan melalui tetesan atau konsumsi dari ibu atau anggota keluarga yang tidak terdiagnosis paling sering disarankan. Penularan tuberkulosis melalui ASI tidak terjadi5.

BACA  Gangguan saluran Cerna Pada Bayi Baru Lahir Necrotizing enterocolitis (NEC), Gejala dan Penanganannya

Diagnosis
Definisi TB kongenital adalah TB yang terjadi pada bayi berusia 1-84 hari

Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis tuberkulosis kongenital

  • Infertilitas, kinerja reproduksi yang buruk, aborsi berulang, lahir mati, ketuban pecah dini dan persalinan prematur diketahui merupakan efek tuberkulosis pada kehamilan. Janin mungkin mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine, berat lahir rendah, dan memiliki peningkatan risiko kematian. Usia rata-rata presentasi TB kongenital adalah 24 hari (kisaran, 1 sampai 84 hari)
  • Manifestasi klinis tidak spesifik dan termasuk makan yang buruk (100%), demam (100%), iritabilitas (100%), gagal tumbuh (100%), batuk (88,9%), dan gangguan pernapasan (66,7%). Pemeriksaan menunjukkan hepatosplenomegali (100%), splenomegali (77,8%), dan distensi abdomen (77,8%) 6. Limfadenopati (38%) letargi (21%), meningitis, septikemia, pneumonia yang tidak kunjung sembuh atau berulang, koagulasi intravaskular diseminata, ikterus, asitis, otitis media dengan atau tanpa mastoiditis (21%), parotitis, osteomielitis, abses paravertebral, abses dingin, dan lesi kulit papular atau pustular (14%) adalah gambaran lain yang diketahui
  • Apnea, muntah, sianosis, ikterus, kejang, dan petechiae telah dilaporkan pada kurang dari 10 persen kasus

Pemeriksaan laboratorium

  • Kebanyakan kasusnya bersifat asimtomatik atau dengan gejala minimal
  • Pada setiap bayi yang dicurigai menderita TB kongenital atau terinfeksi tuberkulosis perinatal, dianjurkan dilakukan uji tuberkulin PPD meskipun hasilnya bisa negatif kecuali kalau infeksi sudah berlangsung selama 4-6 bulan.
  • Pemeriksaan plasenta (PA, mikrobiologis-BTA dan biakan TB)
  • Bila selama evaluasi klinis terdapat limfadenopati, lesi kulit atau ear discharge, lakukan pemeriksaan mikrobiologis dan atau PA.
  • Bila perjalanan klinis terdapat hepatomegali, lakukan pemeriksaan USG abdomen,jika ada lesi di hati lakukan biopsi hati.
  • Bila bayi terbukti menderita TB kongenital, lakukan penanganan sebagai TB kongenital
  • Foto dada, menunjukan adanya adenopati atau infiltrat atau berupa bentuk milier.
  • Pemeriksaan BTA (basil tahan asam) pada cairan lambung.
  • Lumbal pungsi bila indikasi ke arah TB milier atau meningitis TB.
BACA  Komplikasi dan Dampak Operasi Sectio Caesaria

Penanganan

  • Bila ibu menderita tuberkulosis paru aktif dan mendapat pengobatan kurang dari 2
    bulan sebelum melahirkan, atau didiagnosis menderita TB setelah melahirkan:
  • Jangan diberi vaksin BCG segera setelah lahir
  • Beri profilaksis isoniazid (INH) 5 mg/kg sekali sehari peroral
  • Pada usia 8 minggu lakukan evaluasi kembali, catat berat badan dan lakukan tesbMantoux dan pemeriksaan radiologi bila memungkinkan:
  • bila ditemukan kecurigaan TB aktif, mulai berikan pengobatan anti-TB lengkap
    (sesuaikan dengan program pengobatan TB pada bayi dan anak)
  • bila keadaan bayi baik dan hasil tes negatif, lanjutkan terapi pencegahan dengan INH selama 6 bulan.
  • Kortikosteroid diberikan apabila terdapat meningitis TB.
  • Apabila terjadi resisten multiobat (MDR=multidrug resistant) berikan 4 macam obat selama 12-18 bulan.
  • Tunda pemberian vaksin BCG sampai 2 minggu setelah pengobatan selesai. Bila vaksin BCG sudah diberikan, ulang pemberiannya 2 minggu setelah pengobatan INH selesai.
  • Yakinkan ibu bahwa ASI tetap boleh diberikan, dan sarankan ibu untuk menggunakan masker.
  • Lakukan tindak lanjut terhadap bayinya tiap 2 minggu untuk menilai kenaikan berat bayi.

Pemantauan

Bila ibu baru terdiagnosis setelah melahirkan atau belum diobati

  • Semua anggota keluarga harus diperiksa lebih lanjut untuk kemungkinan terinfeksi.
  • Bayi diperiksa foto dada dan tes PPD pada usia 4-6 minggu
  • Ulang tes PPD pada usia 4 bulan dan 6 bulan.
  • Bila hasil tes negatif pada usia 4 bulan dan tidak ada infeksi aktif di seluruh anggota keluarga; pemberian INH dapat dihentikan, pemberian ASI dapat dilanjutkan, dan bayi tidak perlu dipisahkan dari ibu.

Bila ibu tidak mengalami infeksi aktif, sedang dalam pengobatan, hasil pemeriksaan sputum negatif dan hasil foto dada stabil:

  • Foto ulang ibu pada 3 dan 6 bulan setelah melahirkan, dan yakinkan ibu tetap minum obat.
  • Periksa anggota keluarga lain
  • Bayi diperiksa tes tuberkulin PPD pada usia 4 bulan; bila hasilnya negatif, sputum ibu negatif, dan anggota keluarga lain tidak terinfeksi, hentikan pemberian INH.
  • Ulang pemeriksaan tuberkulin PPD pada usia 6,9, dan 12 bulan.

Материалы по теме:

Apgar Score Bayi Baru Lahir, Penilaian dan Penanganannya
Skor Apgar atau nilai Apgar atau Apgar score adalah sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Dr. Virginia Apgar sebagai sebuah ...
Gangguan saluran Cerna Pada Bayi Baru Lahir Necrotizing enterocolitis (NEC), Gejala dan Penanganannya
Necrotizing enterocolitis (NEC), yang biasanya terjadi pada minggu kedua hingga ketiga kehidupan pada bayi prematur yang diberi susu formula, ditandai dengan berbagai kerusakan pada ...
Kenali Dampak Buruk Bayi baru Lahir dengan Ibu Diabetes Melitus
Widodo Judarwanto
BACA  Perkembangan Normal Emosi Sosial Bayi Usia 0 - 12 Bulan dan Stimulasinya
Bayi yang dilahirkan dari ibu penderita DM berisiko mengalami masalah pada saat lahir berupa gangguan maturitas paru, berat lahir besar untuk masa kehamilan ...
Sepsis Neonatorum pada bayi yang baru lahir, Penyebab dan Penanganannya
Sepsis Neonatorum pada bayi yang baru lahir, Penyebab dan Penanganannya Infeksi dapat masuk ke dalam tubuh neonatus melalui tiga rute, yaitu: in utero (transplasental), intrapartum ...
Kenali 5 Tanda Lahir Pada Bayi Baru Lahir
Periksa Dengan Teliti Fisik Bayi Anda Saat Baru Lahir Hari-hari dan minggu-minggu pertama kehidupan bayi baru lahir adalah saat yang menakjubkan dan menyenangkan bagi kebanyakan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Konsultasi Kesehatan Bayi, Chat Di Sini