KLINIK BAYI ONLINE

Picky Eaters atau Pemilih Makanan Pada Bayi

Meskipun tidak ada definisi yang konsisten tentang “Picky eaters” atau pemilih makanan, istilah ini umumnya digunakan untuk menggambarkan bayi yang makan dalam jumlah terbatas, memiliki preferensi makanan yang kuat, membatasi asupan (terutama sayuran), dan yang tidak mau mencoba makanan baru (1 ). Pilih-pilih makanan adalah masalah perilaku yang relatif umum. Studi terbaru telah menemukan bahwa makan pilih-pilih tidak terkait dengan memiliki kelainan makan (2) dan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan (1).

Prevalensi

  • Prevalensi makan pilih-pilih sulit diperhitungkan, karena tidak ada definisi yang diterima secara universal. Dalam sebuah studi baru-baru ini yang melibatkan 4.018 peserta yang dilakukan di Belanda, prevalensi pilih-pilih makanan adalah 26,5% pada usia 18 bulan, 27,6% pada usia 3 tahun, dan menurun menjadi 13,2% pada usia 6 tahun (3).
  • Data dari penelitian menunjukkan bahwa makan pilih-pilih biasanya perilaku sementara dan merupakan bagian dari perkembangan normal pada anak-anak prasekolah.

Etiologi

  • Faktor lingkungan memainkan peran dalam preferensi rasa dan makan. Rasa dari senyawa aromatik yang berasal dari konsumsi makanan ibu ditransmisikan ke dalam cairan ketuban dan ASI; rasa ini memiliki pengaruh kuat dalam preferensi rasa dan penerimaan makanan di kemudian hari (4-6). Sebuah studi eksperimental menunjukkan bahwa bayi dari ibu yang minum jus wortel selama trimester terakhir kehamilan menikmati sereal rasa wortel lebih dari bayi yang ibunya tidak minum jus wortel atau makan wortel (6). ASI terdiri dari rasa yang merupakan cerminan dari makanan yang dikonsumsi oleh ibu menyusui (7, 8).
  • Variasi diet pada ibu menyusui memberikan lebih banyak paparan rasa dan pengalaman pada anak-anak, yang dapat membantu menjelaskan mengapa bayi yang disusui kurang pilih-pilih (9) dan lebih suka mencoba makanan baru (10). Gagasan ini juga didukung dalam penelitian terbaru, di mana 127 anak-anak yang diberi ASI eksklusif selama 6 bulan diamati memiliki peluang lebih rendah untuk mengembangkan preferensi makanan yang disiapkan dengan cara tertentu sebesar 78%, penolakan makanan sebesar 81%, dan menghindari makanan baru (neophobia) sebesar 75% (11).
  • Genetika juga berperan dalam pilih-pilih makanan. Preferensi awal untuk rasa manis telah diamati pada bayi baru lahir (12). Di sisi lain, rasa pahit pada dasarnya tidak disukai, kemungkinan karena mekanisme perlindungan karena sebagian besar senyawa pahit beracun (13). Karenanya, neophobia mungkin merupakan mekanisme perlindungan evolusioner, berfungsi untuk melindungi anak-anak dari menelan zat-zat yang berpotensi toksik.
  • Preferensi makanan bawaan ini dapat menjadi hambatan untuk penerimaan makanan tertentu. Sebuah penelitian yang melibatkan 5.390 pasangan kembar dari usia 8 hingga 11 tahun menyarankan bahwa neophobia adalah sifat yang sangat diwariskan, yang berarti keengganan anak untuk mencoba makanan baru mungkin sebagian disebabkan oleh genetika dan bukan praktik orang tua (14).

Mempromosikan Penerimaan Makanan

  • Ada banyak cara untuk mempromosikan penerimaan makanan di kalangan anak-anak. Ibu (terutama mereka yang tidak berencana untuk menyusui) disarankan untuk makan berbagai makanan selama kehamilan mereka dan kemudian memaparkan anak mereka untuk berbagai makanan pada usia dini (15). Anak-anak dapat menunjukkan perilaku eksplorasi normal dengan makanan baru seperti menyentuh, mencium, bermain, memasukkan makanan ke dalam mulut mereka, dan kemudian memuntahkannya sebelum mereka mau mencicipi dan menelan berbagai makanan (16). Paparan rasa berulang dan pemodelan perilaku dalam mode non-koersif telah terbukti meningkatkan penerimaan makanan (10, 17, 18). Sebaliknya, menekan anak-anak untuk makan dapat menyebabkan mereka tidak menyukai makanan itu (19). Para peneliti dalam sebuah penelitian terhadap 3.022 bayi menemukan bahwa banyak pengasuh tidak sadar bahwa bayi dan balita mereka membutuhkan sebanyak 8-15 eksposur terhadap makanan tertentu sebelum mereka menerima makanan tersebut (20).
  • Peningkatan penerimaan dan konsumsi makanan yang kurang disukai oleh anak-anak seperti buah-buahan dan sayuran yang kaya nutrisi (21) dapat dicapai dengan menawarkan kepada anak-anak rasa yang sangat kecil dari buah dan sayuran yang baru dan tidak disukai sebelumnya (22-24). Makanan juga lebih mudah diterima pada anak kecil ketika orang lain di sekitar mereka makan jenis makanan yang sama (25, 26).
  • Pemodelan seperti itu secara positif menyoroti kenikmatan makanan tersebut. Memuji anak-anak karena mencoba makanan baru dan memberi mereka hadiah token kecil, seperti stiker (tetapi tidak memperlakukan) juga meningkatkan penerimaan. Beberapa penulis berpendapat bahwa memberikan hadiah untuk melakukan tugas mengurangi motivasi intrinsik (27). Namun, ini hanya berlaku untuk tugas yang menarik. Sebagian besar anak-anak yang dicap sebagai “pemakan pilih-pilih” memiliki sedikit minat dalam makan buah dan sayuran. Oleh karena itu, “ada sedikit atau tidak ada motivasi intrinsik untuk merusak” (27).

Penilaian Diferensial

  • Penyebab lain yang mungkin tampak sebagai “makanan yang pilih-pilih” juga harus dipertimbangkan. Intoleransi laktosa atau alergi makanan dapat menyebabkan gagal tumbuh, pruritus oral, nyeri perut, muntah, diare, dan penolakan jenis makanan tertentu (28).
  • Penyakit refluks gastroesofageal dapat muncul dengan keluhan mulas, muntah, dan penolakan makanan yang sering diberikan karena hubungan negatif. Anak-anak dengan hipersensitivitas oral juga dapat mengembangkan reaksi buruk terhadap makan karena sensasi yang kuat dan tidak menyenangkan dengan berbagai jenis makanan.

Kesimpulan

  • Pilih-pilih makanan adalah masalah perilaku yang relatif umum bahwa sebagian besar anak pada akhirnya akan tumbuh lebih besar. Akarnya berasal dari pengaruh lingkungan dan genetik. Ini dapat berfungsi sebagai mekanisme perlindungan untuk menghindari paparan zat yang berpotensi beracun. Meningkatkan paparan berbagai rasa selama kehamilan dan masa bayi (baik secara langsung maupun tidak langsung melalui ASI) dapat mengurangi kejadian pilih-pilih makan.
  • Pemaparan berulang terhadap makanan baru secara non-koersif dan dalam lingkungan yang menyenangkan dan bermanfaat dapat membantu mengatasi pilih-pilih makanan.
  • Kesabaran, waktu, dan pengulangan bisa menjadi kunci keberhasilan. Sementara penelitian lebih lanjut diperlukan pada topik ini, masuk akal untuk merekomendasikan bahwa penyedia layanan kesehatan menawarkan kepastian dan pendidikan kepada orang tua yang peduli tentang pilih-pilih makanan pada anak mereka setelah mereka menilai untuk setiap penyebab yang dapat diobati. Pendidikan sangat penting pada orang tua yang berencana memiliki anak tambahan di masa depan.

Referensi

  • Mascola AJ, Bryson SW, Agras WS. Picky eating during childhood: a longitudinal study to age 11 yearsEat Behav (2010) 11(4):253–7.10.1016/j.eatbeh.2010.05.006
  • Jacobi C, Schmitz G, Agras WS. Is picky eating an eating disorder? Int J Eat Disord (2008) 41(7):626–34.10.1002/eat.20545
  • Cardona Cano S, Tiemeier H, Van Hoeken D, Tharner A, Jaddoe VW, Hofman A, et al. Trajectories of picky eating during childhood: a general population studyInt J Eat Disord (2015).10.1002/eat.22384 

 




.


.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *