KLINIK BAYI ONLINE

Penyebab dan Penanganan Diare Pada Bayi

Pada waktu diare pada bayi, ada kemungkinan jonjot usus (villi dan microvilli) mengalami kerusakan yang sifatnya sebagian. Jadi tidak seluruh jonjot usus mengalami kerusakan. Karena itu, gangguan pencernaan dan penyerapan zat gizi bervariasi bergantung pada derajat kerusakannya. Apabila kerusakan jonjot usus bermakna, kemungkinan anak mengalami gangguan pencernaan dan penyerapan zat makanan, terutama laktosa. Gangguan pencernaan dan penyerapan laktosa terjadi karena enzim pemecah laktosa (laktase) yang terletak di jonjot usus hilang. Karena laktosa tidak dapat dicerna dan diserap dengan baik, maka laktosa yang tetap ada di saluran pencernaan menyebabkan tekanan osmosis, sehingga menyerap air ke dalam saluran pencernaan. Penambahan air ini tidak dapat diatasi oleh usus besar yang memang bertugas menyerap air, sehingga tinja menjadi cair. Inilah yang disebut diare.

Anda dapat menemukan feses bayi dengan banyak tekstur, warna, dan bau yang berbeda di popok bayi berdasarkan apa yang dia makan (ASI, susu formula, atau makanan padat). Kotoran biasanya jauh lebih lembut daripada kotoran orang dewasa, dan itu tidak jarang bahkan lebih lembut dari biasanya. Tetapi jika tiba-tiba menjadi lebih longgar atau lebih berair, dan terjadi lebih sering dan dalam jumlah besar, itu mungkin diare.

Tinja bayi normal lunak dan longgar. Bayi baru lahir sering buang air besar, kadang-kadang setiap kali menyusui. Karena alasan ini, Anda mungkin mengalami kesulitan mengetahui kapan bayi Anda mengalami diare.

Bayi Anda mungkin mengalami diare jika Anda melihat perubahan tinja, seperti lebih banyak tinja tiba-tiba; mungkin lebih dari satu tinja per makan atau tinja yang benar-benar berair.

Penyebab Diare
Diare pada bayi biasanya tidak berlangsung lama. Paling sering, itu disebabkan oleh virus dan hilang dengan sendirinya. Bayi Anda juga bisa mengalami diare dengan:

  • Infeksi virus, bakteri, atau parasit. Bayi dapat mengambil kuman ini melalui kontak dengan makanan atau air yang tidak bersih atau ketika mereka menyentuh permukaan kuman dan kemudian memasukkan tangan mereka ke mulut mereka.
  • Alergi makanan atau sensitivitas terhadap obat-obatan
  • Diare sekunder pada anak dengan hipersensitif saluran cerna. Saat terjadi flu atau common cold terjadi gangguan pada keluhan diare pada bayi
  • Keracunan makanan

Bayi dan anak kecil di bawah usia 3 tahun dapat mengalami dehidrasi dengan cepat dan menjadi sangat sakit. Dehidrasi berarti bayi Anda tidak memiliki cukup air atau cairan.

Awasi bayi Anda dengan cermat untuk melihat tanda-tanda dehidrasi, yang meliputi:

  • Mata kering dan sedikit sampai tidak ada air mata saat menangis
  • Popok basah lebih sedikit dari biasanya
  • Kurang aktif dari biasanya, lesu
  • Rewel
  • Mulut kering
  • Kulit kering yang tidak kembali ke bentuk biasanya setelah terjepit
  • Mata cekung
  • Fontanelle cekung (titik lunak di atas kepala)

Komplikasi

  • Dehidrasi kekurangan cairan
  • Gangguan keseimbangan normal dari air dan garam (elektrolit) pada bayi. Ketika air dan elektrolit hilang dalam jumlah yang banyak (karena diare), bayi akan mengalami dehidrasi..

Harus segera pergi ke dokterĀ atau dirawat jika bayi Anda memiliki gejala-gejala ini :
– Demam lebih dari 38,8 derajat celcius
– Nyeri perut (balita yang sudah bisa mengungkapkan perasaanya)
– Darah atau nanah dalam tinja, atau tinja berwarna hitam, putih atau merah
– Kelesuan
– Muntah-muntah diaertai tanda xehidrasi
– Tidak mau makan bukan indikasi untuk dirawat. Karena sebagian beaar anak dengan diare nafsu makannua akan jauh menurun bahkan seringkali tidak mau makan sama sekali terutama anak dengan riwayat GER atau gastroeaophageal refluks.

Penanganan

  1. Dokter biasanya tidak merekomendasikan obat anti diare untuk anak-anak.
  2. Penyebab infeksi yang paling sering infeksi virua sehingga tidak perlu antibiotika.
  3. Meski sangat jarang mungkin pemberian antibiotik hanya untuk infeksi bakteri atau obat anti-parasit untuk infeksi parasit.
  4. Bayi dengan diare parah yang mengalami dehidrasi perlu pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan cairan melalui infus di pembuluh darahnya.
    Dokter mungkin menyarankan Anda memberi bayi Anda solusi rehidrasi oral. Produk-produk ini, yang dapat Anda beli di supermarket atau toko obat, memiliki cairan dan elektrolit dan dapat mencegah atau mengobati dehidrasi.
    Jika anak Anda makan makanan padat, dokter mungkin menyarankan untuk beralih ke makanan hambar, bertepung seperti pisang saring, saus apel, dan sereal beras sampai diare berhenti. Ibu yang sedang menyusui mungkin perlu menyesuaikan pola makan mereka sendiri untuk menghindari makanan yang bisa memicu diare pada bayi mereka.
  5. Pemberian preparat zinc pada penderita infeksi rota virus atau muntaber
    3. BIla Bayi dinilai dehidrasi sedang atau berat yang mengalami dehidrasi harus mendapatkan cairan infus (intravena/IV) di rumah sakit.
    4. Pemberian cairan rehidrasi (pengembali cairan) seperti oralit.
    5. Perlukah ganti susu rendah laktoza. Tidak semua diare menyebabkan intoleransi laktosa. Tidak semua anak yang diare, susunya perlu diganti. Diare ringan tidak perlu mengganti susu. Anak dengan intoleransi laktosa yang nyata memerlukan susu bebas laktosa untuk sementara. jika anak sudah sembuh, dokter akan mengatur kembali ke susu sebelumnya, karena kerusakan jonjot usus akibat diare bersifat sementara. Jika diare ringan kerusakan jonjot usus tidak berat, ada kemungkinan laktosa tetap mengalami gangguan pencernaan dan penyerapan. Namun laktosa yang lolos dari usus halus masih dapat dicerna oleh bakteri yang ada di usus besar menjadi asam lemak untuk energi sel usus besar. Gangguan pencernaan dan penyerapan laktosa ini tidak sampai menyebabkan diare. Menurut istilah medis, keadaan seperti ini disebut maldigestidan malabsorpsi laktosa. Sebaiknya tidak disarankan mengencerkan susu. Pelarutan susu seharusnya tetap seperti yang dianjurkan oleh pabrik. Pengenceran susu, atau lebih jelasnya mengencerkan susu lebih dari yang dianjurkan bahkan menambah air lebih banyak menyebabkan kandungan semua zat gizi dalam susu menjadi turun. Penurunan zat gizi menyebabkan anak mendapatkan gizi yang kurang, sehingga anak menderita kekurangan gizi. Padahal, selama anak sakit justru memerlukan zat gizi lebih banyak. Kurang gizi menyebabkan diare lama sembuh atau berlangsung lebih lama.
    6. Anak diare tidak perlu memantang makanan kecuali pada bayi dengan riwayat alergi, karena makanan diperlukan anak sehat maupun sakit. Tetapi pada penderita dengan riawayat alerginseringkali makanan tertentu memperberat kondisi saluran cernanya. Pada anak alergi bisa diganti makanan yang rendab alergi seperti sayur, daging sapi, buah apel, pepaya, jambu dan sebagainya.
    7. Pemberian ASI tetap diteruskan. Penelitian membuktikan bahwa anak diare yang diberi ASI akan lebih pendek masa sakitnya, frekuensi buang air besar lebih jarang, dan anak masih tetap mau menyusu walaupun nafsu makannya menurun. Dengan demikian ASI merupakan sumber zat gizi yang baik selama diare, dan mampu mempercepat sembuhnya diare. Karena itu, jangan berhenti menyusui selama anak diare.




.


.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *