5 Penyebab KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Pada Bayi

Spread the love

5 Penyebab KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Pada Bayi

Meskipun semua vaksin berlisensi umumnya aman untuk sebagian besar orang, namun vaksinasi mungkin masih mengalami efek samping sebagai reaksi terhadap berbagai vaksin, beberapa di antaranya dapat serius atau bahkan fatal. Mengenai kesehatan masyarakat, identifikasi dan klasifikasi yang tepat dari KIPI memungkinkan informasi seakurat mungkin tentang frekuensi sebenarnya dari penyakit tertentu yang dikombinasikan dengan vaksin, sehingga meminimalkan risiko vaksin, meyakinkan populasi dan menginformasikan strategi kesehatan publik nasional atau global.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau adverse events following immunization adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (arthritis kronik pasca vaksinasi rubella), atau bahkan 42 hari (infeksi virus campak vaccine-strain pada pasien imunodefisiensi pasca vaksinasi campak, dan polio paralitik serta infeksi virus polio vaccine-strain pada resipien non imunodefisiensi atau resipien imunodefisiensi pasca vaksinasi polio).

POIN PENTING TENTANG EFEK SAMPING IMUNISASI

  • Tidak ada vaksin yang “sempurna” yang melindungi setiap orang yang menerimanya DAN sepenuhnya aman untuk semua orang.
  • Vaksin yang efektif (yaitu vaksin yang menginduksi kekebalan pelindung) dapat menghasilkan beberapa efek samping yang tidak diinginkan yang sebagian besar ringan dan cepat hilang.
  • Mayoritas kejadian yang dianggap terkait dengan pemberian vaksin sebenarnya bukan karena vaksin itu sendiri – banyak kejadian yang hanya kebetulan, yang lain (terutama di negara berkembang) disebabkan oleh kesalahan manusia, atau program.
  • Tidaklah mungkin untuk memprediksi setiap individu yang mungkin mengalami reaksi ringan atau serius terhadap suatu vaksin, meskipun ada beberapa kontraindikasi terhadap beberapa vaksin. Dengan mengikuti kontraindikasi, risiko efek samping yang serius dapat diminimalkan.

Karena penyakit menular yang dapat dicegah dengan vaksin terus menurun, orang menjadi semakin khawatir tentang risiko yang terkait dengan vaksin. Selain itu, kemajuan teknologi dan pengetahuan yang terus meningkat tentang vaksin telah mengarah pada penyelidikan yang difokuskan pada keamanan vaksin yang ada yang terkadang menciptakan iklim yang memprihatinkan.

Kejadian buruk setelah imunisasi adalah kejadian medis yang tidak diinginkan setelah imunisasi dan tidak selalu memiliki hubungan kausal dengan penggunaan vaksin. Jika tidak ditangani dengan cepat dan efektif, dapat merusak kepercayaan terhadap vaksin dan pada akhirnya memiliki konsekuensi dramatis untuk cakupan imunisasi dan insiden penyakit.

BACA  Benarkah Imunisasi Bayi Tidak Bermanfaat ?

Sebagai alternatif, kejadian merugikan terkait vaksin dapat mempengaruhi individu yang sehat dan harus segera diidentifikasi untuk memungkinkan dilakukannya penelitian tambahan dan tindakan yang tepat. Untuk merespons dengan cepat, efisien, dan dengan ketelitian ilmiah terhadap masalah keamanan vaksin, WHO telah membentuk Komite Penasihat Global untuk Keamanan Vaksin.

Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Reaksi simpang vaksin antara lain dapat berupa efek farmakologi, efek samping (side-effects), interaksi obat, intoleransi, reaksi idoisinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara klinis sulit dibedakan. Efek farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi umumnya terjadi karena potensi vaksin sendiri, sedangkan reaksi alergi merupakan kepekaan seseorang terhadap unsur vaksin dengan latar belakang genetik. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin campak, gondong, influenza, dan demam kuning), antibiotik, bahan preservatif (neomisin, merkuri), atau unsur lain yang terkandung dalam vaksin.

KIPI yang paling serius terjadi pada anak adalah reaksi anafilaksis. Angka kejadian reaksi anafilaktoid diperkirakan 2 dalam 100.000 dosis DPT, tetapi yang benar-benar reaksi anafilaksis hanya 1-3 kasus diantara 1 juta dosis. Anak yang lebih besar dan orang dewasa lebih banyak mengalami sinkope, segera atau lambat. Episode hipotonik/hiporesponsif juga tidak jarang terjadi, secara umum dapat terjadi 4-24 jam setelah imunisasi.

5 Penyebab KIPI menurut klasifikasi lapangan WHO Western Pacific (1999), yaitu:

  • Kesalahan program/teknik pelaksanaan (programmic errors) Sebagian kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin.
    Kesalahan pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi:

    (1) Dosis antigen (terlalu banyak) Lokasi dan cara menyuntik (2) Sterilisasi semprit dan jarum suntik (3) Jarum bekas pakai (4) Tindakan aseptik dan antiseptic (5) Kontaminasi vaksin dan perlatan suntik (6) Penyimpanan vaksin (7) Pemakaian sisa vaksin (8) Jenis dan jumlah pelarut vaksin (9) Tidak memperhatikan petunjuk produsen (10) Kecurigaan terhadap kesalahan tata laksana perlu diperhatikan apabila terdapat kecenderungan kasus KIPI berulang pada petugas yang sama. (11) Reaksi suntikan

Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope.
Beberapa contoh KIPI setelah imunisasi DPT adalah anak menangis terus tak bisa dibujuk sekitar 3 jam pasca-imunisasi, reaksi syok (anafilaksis), dan kesadaran menurun. KIPI setelah pemberian imunisasi Campak berupa sakit atau radang sendi yang mendadak atau kronis. Kejadian-kejadian tersebut memang terbukti kuat sebagai akibat imunisasi. Demikian pula reaksi-reaksi yang ditimbulkan oleh vaksin lainnya. Cuma kejadiannya sangat jarang kalau sebagai akibat dari vaksinnya.
Adanya kerusakan syaraf, perdarahan, infeksi pada jaringan otak setelah mendapat imunisasi DPT, kejadian-kejadian tersebut terbukti tidak ada hubungan dengan pemberian imunisasi. Demikian pula gangguan saraf setelah imunisasi Campak, tidak ada hubungan dengan imunisasinya. Telah pula dibahas oleh pejabat yang terkait dalam pelaksanaan PIN, bahwa sampai saat ini vaksin polio yang sudah dipakai sampai miliaran dosis, terbukti tidak menimbulkan efek samping.

  • Induksi vaksin (reaksi vaksin) Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaksis sistemik dengan resiko kematian. Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi dengan baik dan tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen sebagai indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus, atauberbagai tindakan dan perhatian spesifik lainnya termasuk kemungkinan interaksi obat atau vaksin lain. Petunjuk ini harus diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh pelaksana imunisasi.
  • Faktor kebetulan (koinsiden) Seperti telah disebutkan di atas maka kejadian yang timbul ini terjadi secara kebetulan saja setelah diimunisasi. Indicator faktor kebetulan ini ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakterisitik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi.
  • Penyebab tidak diketahui Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan kedalam salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan kedalam kelompok ini sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya denagn kelengkapan informasi tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.
BACA  Vaksin Campak, MR atau MMR : Jadwal dan Efek Samping

 

.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *