KLINIK BAYI ONLINE

Tehnik PGS Deteksi Jenis Kelamin Lebih Cepat dan Implantasi Optimal

Teknik Pre-Implementation Genetic Screening (PGS) adalah tehnik untuk dapat meningkatkan peluang keberhasilan bayi tabung. Teknik terbaru ini juga dapat melihat jenis kelamin calon bayi. Dalam hasil pemeriksaan yang dianalisis laboratorium, turut terlihat susunan kromosom embrio. Salah satunya yang tampak adalah kromosom XY dan XX. Biopsi sel pada level embrio ini dikirim ke laboratorium untuk diteliti dalam waktu 24 jam bisa dilihat hasilnya apakah embrio ini secara kromosom normal atau tidak.

Meski dengan tehnik mutahkir ini bisa melihat embrio jenis kelamin. Tapi tidak bisa mengalokasikan program ini untuk menentukan jenis kelamin, Dengan PGS dapat dialokasikan untuk menemukan outcome terbaik bagi pasien. Dalam metode Pre-Implementation Genetic Screening (PGS) dengan teknologi array-Comparative Genomic Hybridization (aCGH) ini, sel-sel dari embrio diambil kemudian dianalisis di laboratorium untuk mengetahui mana embrio yang tidak normal. Setelah mendapatkan embrio-embrio normal dan berkualitas maka akan dilakukan implantasi diharapkan mendapatkan outcome yang optimal. Peluang implantasi berhasil pun meningkat dibanding cara sebelumnya.

Teknologi yang baru kali pertama dikenalkan di Indonesia ini dapat meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung hingga 50 persen. Pada teknik PGS ini dapat membantu menseleksi embrio lebih baik dan meningkatkan kemungkinan implantasi sampai 50 persen lebih tinggi. Sekitar 80 persen telur yang diproduksi manusia bersifat aneuploidy. Ini berarti memiliki kelainan pada kromosomnya, yang berakhir pada embrio tak normal sehingga berdampak pada kegagalan kehamilan atau terjadi keguguran. Cara yang berlaku umum di laboratorium embriologi dalam menentukan kenormalannya selama ini adalah dengan menganalisis bentuk atau morfologinya. Peluang implamantasi berhasil pun hanya berkisar 30-40 persen.

Teknologi PGS dengan menggunakan cara biopsi sel dari embrio. Teknologi array-Comparative Genomic Hybridization (aCGH) ini mengambil sel-sel dari embrio, kemudian dianalisis di laboratorium untuk mengetahui mana embrio yang tidak normal. Sehingga pada akhirnya hanya embrio-embrio normal dan berkualitas saja yang diimplantasi. Peluang implantasi berhasil pun meningkat dibanding cara sebelumnya.
Biopsi sel pada level embrio ini dikirim ke laboratorium untuk diteliti dalam waktu 24 jam bisa dilihat hasilnya apakah embrio ini secara kromosom normal atau tidak. Biaya yang dibutuhkan untuk pemeriksaan tersebut saat ini sangat mahal yaitu sekitar Rp 30 juta.

 

BACA  Kenali Kondisi Ibu dan Janin Usia 1- 9 Minggu Dalam Kehamilan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Konsultasi Kesehatan Bayi, Chat Di Sini