KLINIK BAYI ONLINE

Berak Darah dan Hipersensitiftas Saluran Cerna Pada Bayi

Berak Darah dan Hipersensitiftas Saluran Cerna Pada Bayi

 
 

Nadine,  bayi perempuan perempuan usia 10 bulan sejak lahir hingga sekarang mengalami berak darah berulang beberapa kali. Berak darah yang terjadi pada nadine sering dianggap disentri atau amuba dan harus dioberikan antibiotika atau anti amuba. Beberapa dokter sering menyalahkan orangtua karena tidak menjaga kebesihan sehingga anaknya sering mengalami diare.  Padahal waktu itu hanya minum ASI dan ibu berusaha seper bersih dalam merawat anak.  Setelah berganti-ganti dokter,  terdapat salah seorang dokter tanpa memberikan antibiotika dan mengadviskan melakukan penanganan alergi dan hipersensitifitas makanan dengan menghindari sementara beberapa makanan yang diduga penyebab alergi makanan ternyata tidak dalam waktu lama keluhan gangguan berak darahnya tidak timbul lagi. Benarkah bayi itu mengalami alergi susu sapi ?

Identifikasi asal perdarahan saluran cerna
Gejala klinis Lokasi perdarahan
 Laserasi esofagus/mukosa gaster (Mallory weiss syndrome)
Muntahan darah merah segar atau seperti kopi Lesi proksimal dari ligamen Treitz
Melena Lesi proksimal dari ligamen Treitz, usus kecilKehilangan darah berkisar 50-100 ml/hari
Darah segar bercampur tinja Lesi pada ileum atau colonPerdarahan masif upper gastrointestinaltract
Darah diluar tinja Lesi pada ampula rektum atau anus

 

Penyebab Lain Perdarahan Saluran Cerna
Bayi
Hematemesis Tertelan darah ibuPeptic esophagitis
Melena Ulkus duodenumDuplikasi ileumDivertikulum Meckel
Melena dengan nyeri, obstruksi, peritonitis, perforasi Necrotizing enterocolitisIntususepsiVolvulus
Hematochezia dengan diare, crampy abdominal pain Kolitis infeksiosaKolitis pseudomembranEnterokolitis Hirschprung
Hematochezia tanpa diare dan nyeri perut Fisura aniKolitis eosinofilik

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity) (Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)

  • Pada Bayi  : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau.  Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING MENYERTAI ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI :

  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH :  telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
 
GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU YANG SERING  MENYERTAI PENDERITA ALERGI DAN HIPERSENSITIFITAS MAKANAN PADA BAYI
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : Mudah kagetbila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan badan dan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala atau memukul-kepala. Sering menggeleng-gelengkan kepala berlebihan.
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, atau wajah  orang yang menggendong. Sering menggigit atau menarik dengan mulut puting Ibu, menjilat, mencubit, menjambak atau seperti mudah “gemes”, sering menggigit tangan atau punggung yang menggendong.
  • GANGGUAN KONSENTRASI: mudah bosan, bila memegang atau melihat mainan cepat berpindah ke mainan atau hal lain.
  • EMOSI TINGGI: bila minta minum tidak sabar atau terburu-buru. Sering berteriak teriak, atau bila menangis sangat keras sekali dan lama.
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara mudah kaget
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, mengoceh berkurang atau menghilang dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, terlambat makan nasi tim saring, bila ada makanan yang berserat sedikit tidak mau atau dikeluarkan dari mulut.  Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.

KOMPLIKASI YANG SERING TERJADI

  • Sering mengalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan,  terlambat makan nasi tim saring, bila ada makanan yang berserat sedikit tidak mau atau dikeluarkan dari mulut.  Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. Pada kasus seperti ini biasanya berat badan mulai tidak baik saat usia 4-6 bulan saat diberi susu tambahan atau makanan tambahan baru.
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS, biasanya sering terjadi pada bayi yang pada malam hari sering minta minum susu karena rewel, selama ini hal tersebut dianggap kehausan atau minum susu padahal ada yang tidak nyaman (biasanya di saluran cerna, coba perhatikan gejala gangguan saluran cerna pada bayi alergi)
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali). Pada bayi pemberian ASI ekslusif seharusnya sebelum usia 6 bulan tidak akan mengalami sakit batuk, pilek atau diare tetap[i pada kasus ini beberapa kali mengalaminya. Biasanya sering terjadi infeksi semakin lebih mudah tertular setelah usia 6 bulan.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING.  Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan 
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC  (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”)  KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAKBILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA  

 Bila tanda dan gejala  gangguan Berak Darah berulang pada anak tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan (terutama gangguan saluran cerna) tersebut maka sangat mungkin Gangguan Berak Darah berulang itu disebabkan karena alergi atau hipersenitifitas makanan.

Penyebab lain yang memperberat  Gangguan  Berak Darah berulang Pada Anak adalah saat anak terkena infeksi seperti demam, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna 

 

Berak darah pada penderita alergi dan hipersensitif makanan biasanya timbul dipicu oleh infeksi di luar saluran cerna seperti infeksi saluran napas demam, bersin, batuk, napsa grok-grok. Infeksi ringan yang biasanya disebabkan karena infeks virus ini seringkali diabaikan atau tida terdeteksi oleh para klinisi karena gangguannya sangat ringan. Hal inilah yang sering salah diagnosis atau overdiagnosis berak darah dianggap karena alergi susu sapi padahal sebelumnya minum susu sapi sudah 2-6 bulan tidak mengalami gangguan apapun.  Alasan klinisi tentang gejala yang timbul baru terjadi kemudian itgu dianggap karena  sensitisasi  butuh waktu juga tidak benar. Karena, untuk sensitisasi tidak perlu waktu yang demikian lama, dan biasanya bayi sudah tersensitisasi susu sapi sejak usia dalam kehamilan. Banyak kasus pada penderita tersebut setelah dilakukan provokasi atau dicoba susu sapi ternyata memang tidak mengalami gangguan sedikitpun.

 
 
TIPS MUDAH MEMBEDAKAN BERAK DARAH KARENA INFEKSI SALURAN CERNA ATAU KARENAHIPERSENSITIF SALURAN CERNA (YANG DIPICU INFEKSI DI LUAR SALURAN CERNA)
  • INFEKSI SALURAN CERNA (DISENTRI, AMUBA) : Saat hari pertama frekuensi darah dalam feses sedikit selanjutnya  hari ke dua dan ke tiga sering dan bertambah banyak. Gangguan ini perlu antibiotika
  • Hipersensitif saluran cerna  (dipicu infeksi di luar saluran cerna seperti demam, flu, batuk, pilek) : bila berak darah hanya timbul saat hari pertama dan saat hari ke dua dan ke tiga semakin berkurang dan membaik tanpa pemberian antibiotika. Gangguan ini tidak perlu antibiotika
  
Memastikan Diagnosis
  • Diagnosis Gangguan Berak Darah berulang Pada bayi yang disebabkan  alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.
 PENATALAKSANAAN 
  • Penanganan Gangguan  Berak Darah berulang Pada Bayi  karena alergi dan hipersensitifitas makanan haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada bayi harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis seperti anti diare, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dalam keadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.
Obat
  • Pemberian obat antibiotika, anti disentri  dan anti amuba tidak banyak bermanfaat dan tidak diindikasikan pada  Gangguan Berak Darah berulang karena alergi dan hipersensitifitas makanan
  • Pengobatan Gangguan Berak Darah berulang pada bayi karena alergi dan hipersensitifitas makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Waspadai overdiagnosis Alergi Susu Sapi atau diagnosis yang tidak benar tentang alergi susu sapi.

 

 




.


.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *