APAKAH BAYIKU ALERGI SUSU SAPI ?

Spread the love

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=z93ks7zJnqk]

TANDA DAN GEJALA ALERGI SUSU SAPI PADA BAYI DAN ANAK

Dr Widodo Judarwanto pediatrician

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI SUSU SAPI PADA BAYI :
  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN CERNA : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI SUSU SAPI PADA ANAK

  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki, kadang nyeri dada terutama saat malam hari
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat berbau.
  • FATIQUE : mudah lelah, sering minta gendong

GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI SUSU SAPI PADA ANAK
(ALERGI DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN OTAK/PERILAKU ATAU “BRAIN ALLERGY” – CEREBRAL ALLERGY)

  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
    Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • GANGGUAN TIDUR MALAM : sulit tidur bolak-balik ujung ke ujung, tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak, sering terbangun duduk saat tidur,,mimpi buruk, “beradu gigi”
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
    · Memperberat gejala AUTIS dan ADHD
BACA  Inilah Yang Perlu Diketahui Untuk memilih Susu Formula Terbaik Untuk Bayi

KOMPLIKASI

  • KESULITAN MAKAN DAN BERAT BADAN SULIT NAIK terutama setelah usia 4 – 6 bulan
  • DAYA TAHAN TUBUH MENURUN : MUDAH SAKIT PANAS, BATUK, PILEK (INFEKSI BERULANG) ; 1-2 kali setiap bulan). SEBAIKNYA TIDAK TERLALU MUDAH MINUM ANTIBIOTIKA. PENYEBAB TERSERING INFEKSI BERULANG ADALAH VIRUS YANG SEBENARNYA TIDAK PERLU ANTIBIOTIKA.
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu
  • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING. Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”) KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN

SERING DIANGGAP BIASA

  • Tanda dan gejala yang dikaitkan dengan alergi pada bayi dan anak tersebut, seringkali memang dialami oleh banyak anak (sekitar 30% lebih). Karena banyaknya kasus tersebut maka gejala tersebut sering dianggap biasa, baik oleh kalangan masyarakat dan bahkan oleh sebagian kalangan klinisi atau dokter. Bila orangtua hanya mempunyai satu anak mungkin tidak menyadari, tetapi bila mempunyai anak 2 atau lebih maka akan dapat membedakan sebenarnya tanda dan gejala yang dianggap biasa tersebut sebenarnya tidak terjadi pada sebagian anak lainnya. Hanya saja ketika hal tersebut dianggap biasa karena selama ini tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa hal itu terjadi. Demikian pula terjadi kontroversi di kalangan medis, semua gejala tersebut saat dikonsultasikan ke dokter sering dianggap biasa, Mungkin secara tehnis hal ini sulit dijelaskan ke pasien karena selama ini gangguan-gangguan tersebut secara medis penyebabnya belum terungkap jelas. Gejala tersebut akan berkurang seiring dengan usia. Bila dikaitkan dengan manifestasi alergi, hal ini memang berkaitan dengan bertambahnya usia imaturitas atau ketidakmatangan saluran cerna akan semakin membaik sehingga gangguan-gangguan tersebut akan semakin berkurang.
  • Tetapi ternyata sebagian besar yang diaggap biasa tersebut mempunyai aspek yang sangat luas. Bila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan banyak komplikasi seperti anak sering sakit, gangguan perilaku dan gangguan lain yang cukup mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
  • Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak gangguan dapat disebabkan karena alergi makanan. Penulis juga banyak mengadakan penelitian dan pengamatan terhadap tanda dan gejala tersebut. Ternyata setelah dilakukan eliminasi makanan tertentu maka gejala tersebut dapat hilang atau berkurang. Atau, bila gejala tersebut timbul selalu terjadi menifestasi alergi lainnya. Misalnya, bila terjadi kolik seringkali disertai gangguan kulit, hidung buntu, napas grok-grok dan gangguan saluran cerna lainnya. Bila dilakukan anamnesa dengan cermat terjadi pola perubahan makanan baik diet ibu saat pemberian ASI atau makanan yang dikonsumsi langsung oleh bayi.
  • Demikian juga dengan gangguan bentol merah seperti digigit nyamuk atau serangga, biasanya disertai gangguan tidur malam, gangguan saluarn cerna ringan, hidung buntu malam, perilaku emosi dan agresif meningkat dan sering ditemukan pola diet makanan alergi yang dikonsumsi.
  • Sehingga orangtua harus bijak dalam menyikapinya. Memang tampaknya alergi makanan tidak berbahaya dan tidak terlalu mengkawatirkan. Tetapi bila dicermati lebih jauh jangka panjang yang bisa terjadi maka hal yang dianggap biasa tersebut SANGAT MENGGANGGU dan harus lebih diwaspadai.

PERSEPSI BERBEDA DALAM MASYARAKAT

Gejala dan tanda alergi pada anak yang sering terjadi sering disalah persepsikan penyebabnya oleh masyarakat. Pendapat tersebut turun temurun terjadi didapatkan dari orang tua atau kakek nenek. Dalam jangka panjang gangguan tersebut ternyata dapat menjadi alat prediksi ke depan. Persepsi berbeda dalam masyarakat dalam menyikapi tanda dan gejala alergi:

  • Dermatitis (merah di pipi) sering dianggap karena terkena (“terciprat”) air susu ibu. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu seringkali timbul jerawat di wajah atau di punggung atau dada atas..
  • Perioral dermatitis (bintik merah di sekitar mulut) sering dianggap sehabis makan lupa membersihkan sisa makanan di sekitar mulut. Padahal sisa makanan tersebut tiap hari pasti ada tetapi keluhan ini hilang timbul. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua,
  • Hipersekresi bronkus (napas bunyi grok-grok) sering dianggap karena dokter atau bidan kurang bersih menyedot atau membersihkan cairan ketuban di mulut bayi saat lahir.
  • Diapers Dermatitis (merah di daerah popok) sering dianggap karena pemakaian popok (diapers) padahal setiap hari memakai diapers tetapi hanya saat tertentu tiombul gejala. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering batuk kecil (berdehem) karena dahak berlebihan di tenggorokan.
  • Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.
  • Sering nyeri perut sering dianggap pura-pura atau alasan menolak makanan hal ini terjadi karena keluhan tersebut sangat ringan dan timbul hanya sebentar. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering perut rasa tidak enak atau gejala maag.
  • Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.
  • Bintil merah di kulit yang berubah menjadi kehitaman atau dermatitis di kulit sering dianggap karena digigit nyamuk atau darah manis, padahal semua anggota keluarga di dalam rumah yang sama tidak mengalaminya. Atau, sering dianggap karena debu atau air kran yang kurang bersih atau karena udara panas atau keringat.
  • Tanda lebam kebiruan di tulang kering kaki atau kadang di daerah salah satu pipi sering dianggap karena terbentur atau terjatuh saat berlari atau naik sepeda. Memang kebetulan bahwa anak alergi biasanya anaknya sangat aktif dan tidak bisa diam. Hal ini biasanya juga dialami oleh salah satu orang tua, tetapi pada orangtua biasanya lokasinya di paha atau lengan atas sering diistilahkan dicubit setan.
  • Mata atau telinga gatal, sering digosok-gosok sering dianggap karena mengantuk
  • Tanda putih (seperti panu) di pipi, dada atau pungggung sering dianggap karena berenang, padahal banyak anak yang tidak pernah berenang juga mengalaminya.
  • Sering sariawan atau luka di mulut sering dianggap karena panas dalam atau kurang vitamin C padahal anak setiap hari makan buah. Sariawan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.
  • Sulit Buang air besar atau tidak buang air besar tiap hari sering dianggap karena karena kurang buah atau sayur padahal anak setiap hari makan buah dan sayur. Gangguan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.
BACA  Profil Mikrobiota usus bayi berdasarkan faktor penentu lainnya

MEMASTIKAN DAN MENCARI PENYEBAB ALERGI SUSU SAPI

  • UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI SUSU SAPI BUKAN DENGAN TES ALERGI (TES KULIT ATAU TES DARAH) TETAPI DENGAN menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC).
  • DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Rumah Sakit Bunda Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
  • PEMERIKSAAN ALERGI YANG DIANJURKAN DAN TELAH TERBUKTI SECARA KLINIS ADALAH TES KULIT DAN PEMERIKSAAN IgE SPESIFIK, TETAPI PEMERIKSAAN INI HANYA MEASTIKAN ADANYA BAKAT ALERGI ATAU ATOPI, BELUM MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI
  • Bahkan dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test), Bioresonansi, Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.
  • PEMERIKSAAN TES KULIT : SENSITIFITAS TINGGI TETAPI SPESIFITAS RENDAH. SEDANGKAN PEMERIKSAAN ALTERNATIF (BELUM TERBUKTI SECARA ILMIAH) SEPERTI TEST VEGA, BIORESONANSI DLL SENSITIFITAS DAN SPESIFITASNYA RENDAH SEHINGGA BELUM MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI MAKANAN
    · SEHINGGA SEBAIKNYA JANGAN MENGHINDARI DAN MEMBOLEHKAN MAKANAN HANYA BERDASARKAN TES KULIT DAN TES DARAHEND POINT
  • ANGKA KEJADIAN ALERGI MAKANAN SEMAKIN HARI SEMAKIN MENINGKAT PESAT. ALERGI MAKANAN DAPAT MENGGANGGU SEMUA ORGAN TUBUH, TERMASUK OTAK DAN PERILAKU ANAK. GANGGUAN PERILAKU YANG MENYERTAI ADALAH ANAK TAMPAK SANGAT AKTIF, EMOSI TINGGI, GANGGUAN TIDUR MALAM, KETERLAMBATAN BICARA, AGRESIF, GANGGUAN KONSENTRASI, GANGGUAN KOORDINASI MOTORIK, GANGGUAN BELAJAR HINGGA MEMPERBERAT AUTIS DAN ADHD.
  • ALERGI SUSU SAPI MASIH MISTERIUS DAN BELUM BANYAK TERUNGKAP SEHINGGA DISEKITAR KITA BANYAK TIMBUL KONTROVERSI BAIK OLEH MASYARAKAT ATAU DIANTARA KLINISI (DOKTER) SEHINGGA KADANG MEMBINGUNGKAN ORANGTUA. HINGGA KINI BANYAK GANGGUAN TERSEBUT DI ATAS MASIH BELUM TERUNGKAP JELAS APA PENYEBABNYA. SEHINGGA BANYAK TIMBUL PENDAPAT BERBEDA UNTUK MENDUGA PENYEBABNYA. SERINGKALI JUGA DIANGGAP MANIFESTASI NORMAL. TERNYATA BEBERAPA GANGGUAN TERSEBUT HILANG TIMBUL SECARA BERSAMAAN BERKAITAN DENGAN KONSUMSI MAKANAN TERTENTU.
  • SERING DIANGGAP BIASA KARENA SEBAGIAN BESAR BAYI BANYAK YANG MENGALAMI PADAHAL BILA TIDAK DIATASI SEJAK DINI DALAM JANGKA PANJANG SAAT USIA LEBIH BESAR GANGGUAN INI BERESIKO MENIMBULKAN BANYAK GANGGUAN.
    o COBA TANYAKAN PENGALAMAN INI PADA ORANGTUA PENDERITA ALERGI MAKANAN LAINNYA ATAU SETELAH MENGALAMI SENDIRI TERNYATA BAHWA ALERGI MAKANAN SANGAT MENGGANGGU ANAK. MAKA KITA HARUS LEBIH PERCAYA PADA FAKTA YANG TERJADI TERSEBUT, BAHWA ALERGI MAKANAN SANGAT JAHAT.
  • PERMASALAHAN YANG TIMBUL ADALAH : MINUM OBAT JANGKA PANJANG DAN BERGANTI-GANTI DOKTER KARENA GEJALA ALERGI HILANG TIMBUL. PEMBERIAN OBAT ALERGI JANGKA PANJANG ADALAH BUKTI KEGAGALAN MENGIDENTIFIKASI PENYEBABNYA. HINDARI MINUM OBAT JANGKA PANJANG & HINDARI KOMPLIKASI YANG TERJADI
  • ALERGI DAPAT DIDETEKSI DAN DICEGAH SEJAK DINI BAHKAN SEJAK DALAM KANDUNGAN, DENGAN PERTAMBAHAN USIA DI ATAS USIA 2 – 7 TAHUN ALERGI MAKANAN AKAN BERTAHAP DAPAT BERKURANG
    o GOLD STANDART DIAGNOSIS ATAU MEMASTIKAN MAKANAN PENYEBAB ALERGI ADALAH DENGAN DBPCFC BUKAN DENGAN TES KULIT, TES DARAH ATAU PEMERIKSAAN ALERGI LAINNYA.
  • MESKIPUN ALERGI TIDAK BISA HILANG SAMA SEKALI , TETAPI ALERGI MAKANAN AKAN BERKURANG SECARA ALAMIAH SAAT USIA TERTENTU SECARA BERTAHAP DI ATAS USIA 2 – 7 TAHUN. MENGHILANG ATAU BERKURANGNYA ALERGI TERSEBUT BUKAN KARENA OBAT-OBATAN, MEMAKSA MAKANAN PENYEBAB ALERGI, BERENANG ATAU PEMBERIAN TERAPI TRADISONAL LAINNYA.
  • ALERGI SUSU SAPI PADA USIA 1 TAHUN, 45% MEMBAIK, PADA USIA 3 TAHUN 64% MEMBAIK DAN USIA 3 TAHUN 85% AKAN MEMBAIK
  • MENUNDA MAKANAN PENYEBAB ALERGI TIDAK MEMPENGARUHI STATUS GIZI ANAK ASALKAN MENGETAHUI JENIS MAKANAN PENGGANTINYA
BACA  Tips Dari Pakar Untuk Stimulasi Bicara Pada Bayi
loading...

4 thoughts on “APAKAH BAYIKU ALERGI SUSU SAPI ?”

  1. Dok, anak saya berumur 1.5 bln, sejak lahir dberi susu formula krn asi-nya tdk keluar. Pd saat umur 2 minggu anak sy diare (buang air bsr lbh dr 3 kali kdg dsertai lendir darah). Stlah konsultasi k dokter anak disarankan susunya dganti dgn susu protein hidrolisat ekstensif (pregestimil). Setelah 2 minggu pemakaian BAB-nya membaik jd hanya satu kali sehari. Ketika konsultasi kembali k dokter anak, dsarankan utk mencoba kembali ke susu formula biasa dgn alasan susu protein hidrolisat ekstensif memiliki kekurangan dlm kandungan nutrisinya. Kemudian sy cb kembali ke susu formula biasa, stlh 2 minggu pmakaian BABnya bgs hanya satu kali sehari, tp muncul bintik2 merah d seluruh pipi, wajah, smpai k belakang telinga, sekarang jd suka buang angin jg. Pertanyaan sy adalah bisakah saya terus btahan dgn susu formulanya?kalo susu pregestimil dia tdk suka. Bisakah by saya akhrnya terbiasa bila sy tetap paksakan dgn susu formula biasa?kalo mau konsul lgs, dokter schedulenya kapan ya?

  2. anak saya dr rumah sakit di kasih susu unmum,bab keras dimsaranin kaasih sgm bab bagus hanya pas umur 2 bulan mulai muntah2 kalau di kasih susu ,dan lidahnya sering putih2 padahal da dibersihkan,mulai umur 4 bulan menolak susu kalau tidur baru mau ngedot,ya di sendokin sampe sekarang umur 13 bulan, tidak menunjukkan lapar dan haus,dipaksain minum pake sendok, skrg anakku masih sering muntah kl makan ,kenapa anakku seperti itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published.