Penanganan Terkini Bayi Berat Lahir Rendah

image

Penanganan Terkinj Bayi Berat Lahir Rendah

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (2500 gram. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yang berkisar antara 9-30%.

Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu adalah umur (40 tahun), paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskular, kehamilan ganda, dan lain-lain, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR.

Permasalahan yang sering timbul pada BBLR:

– Masalah pernapasan karena paru-paru yang belum matur.
– Masalah pada jantung
– Perdarahan otak
– Fungsi hati yang belum sempurna
– Anemia atau polisitemia
– Lemak yang sedikit sehingga kesulitan mempertahankan suhu tubuh normal
– Masalah pencernaan/toleransi minum
– Risiko infeksi

Pemeriksaan penunjang
– Pemeriksaan skor Ballard
– Tes kocok (shake test) dianjurkan untuk bayi kurang bulan
– Darah rutin, glukosa darah.
– Bila perlu (tergantung klinis) dan fasilitas tersedia, diperiksa kadar elektrolit dan analisis gas darah.
– Foto rontgen dada diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dan mengalami sindrom gangguan napas
– USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan <35 minggu, dimulai pada umur 3 hari dan dilanjutkan sesuai hasil yang didapat.

Penanganan

– Pemberian vitamin K1
– Injeksi 1 mg IM sekali pemberian; atau
– Per oral 2 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur 4-6 minggu).
– Mempertahankan suhu tubuh normal
– Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi, seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas, inkubator, atau ruangan hangat yang tersedia di fasilitas kesehatan setempat sesuai petunjuk
– Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin
– Ukur suhu tubuh sesuai jadwal
– Pemberian minum
– ASI merupakan pilihan utama
– Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali
– Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.
– Pemberian minum minimal 8x/hari. Apabila bayi masih menginginkan dapat diberikan lagi (ad libitum).
– Indikasi nutrisi parenteral yaitu status kardiovaskular dan respirasi yang tidak
stabil, fungsi usus belum berfungsi terdapat anomali mayor saluran cerna, NEC, IUGR berat, dan berat lahir 1000 g.

Pada bayi sakit, pemberian minum tidak perlu dengan segera ditingkatkan selama tidak ditemukan tanda dehidrasi dan kadar natrium serta glukosa normal.

Panduan pemberian minum berdasarkan BB:
– Berat lahir 500 U/L berikan
fosfat 2-3 mmol/kg/hari dibagi 3 dosis.
– Imunisasi yang diberikan sama seperti bayi normal kecuali hepatitis B.
– Bila perlu siapkan transportasi dan atau rujukan.

Pemantauan

– Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan
– Preparat besi sebagai suplementasi mulai diberikan pada usia 2 minggu
Tumbuh Kembang
– Pantau berat bayi secara periodik
– Bayi akan kehilangan berat selama 7-10 hari pertama (sampai 10% untuk bayi dengan berat lahir ≥ 1500 gram dan 15% untuk bayi berat lahir 1500 gram). Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali apabila terjadi komplikasi.
– Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (pada semua kategori berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari:
– Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 mL/kg/hari sampai tercapai jumlah 180 mL/kg/hari
– Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan kenaikan berat badan bayi agar jumlah
pemberian ASI tetap 180 mL/kg/hari
– Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI sampai 200 mL/kg/hari
– Timbang berat badan setiap hari, ukur panjang badan dan lingkar kepala setiap hari

Pemantauan setelah pulang

Masalah jangka panjang yang mungkin timbul:
– Gangguan perkembangan
– Gangguan pertumbuhan
– Retinopati karena prematuritas
– Gangguan pendengaran
– Penyakit paru kronik
– Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit
– Kenaikan frekuensi kelainan bawaan
Untuk itu perlu dilakukan pemantauan sebagai berikut:
– Kunjungan ke dokter hari ke-2, 10, 20, 30 setelah pulang, dilanjutkan setiap bulan
– Hitung umur koreksi
– Pertumbuhan: berat badan, panjang badan dan lingkar kepala (lihat grafik
pertumbuhan).
– Tes perkembangan: Denver development screening test (DDST)
– Awasi adanya kelainan bawaan
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada BBLR
– Hipotermi
– Hipoglikemia
– Hiperbilirubinemia
– Respiratory distress syndrome (RDS)
– Intracerebral and intraventricular haemorrhage (IVH)
– Periventricular leucomalasia (PVL)
– Infeksi bakteri
– Kesulitan minum
– Penyakit paru kronis (chronic lung disease)
– NEC (necrotizing enterocolitis)
– AOP (apnea of prematurity) terutama terjadi pada bayi <1000 g
– Patent Ductus Arteriosus (PDA) pada bayi dengan berat <1000 g
– Disabilitas mental dan fisik
– Keterlambatan perkembangan
– CP (cerebral palsy)
– Gangguan pendengaran
– Gangguan penglihatan seperti ROP (retinopathy of prematurity)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s