Bayi Dilahirkan Ibu dengan infeksi Tuberkulosis (TB) Paru

image
Bayi Dilahirkan Ibu dengan infeksi Tuberkulosis (TB) Paru

Terdapat sekitar 11,9 juta kasus TB Paru di dunia (WHO). Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam jumlah kasus baru TB (0,4 juta kasus) menurut WHO tahun 1994. Jumlah kasus TB di tujuh Rumah Sakit Pusat Pendidikan di Indonesia (1998-2002) adalah 1086 dengan kelompok usia terbanyak adalah 12-60 bulan (42,9%) sedangkan bayi <12 bulan sebanyak 16,5%. Kejadian tuberkulosis (TB) kongenital jarang terjadi.

Ibu hamil dengan infeksi TB pada paru saja tidak akan menularkannya ke janin sampai bayi lahir. Mekanisme infeksi intrauterin dapat melalui beberapa cara yaitu penyebaran secara hematogen melalui vena umbilikalis atau aspirasi cairan amnion yang terinfeksi
(TB kongenital), transmisi melalui proses persalinan (TB natal), dan TB pascanatal terjadi akibat penularan secara droplet. Ada 5 faktor yang menyebabkan peningkatan TB pada
anak dan dewasa muda yaitu epidemi HIV (human immunodeficiency virus), terjadinya imigrasi dari daerah yang risiko tinggi terjadi TB ke daerah yang risiko rendah, peningkatan transmisi terutama pada fasilitas kesehatan, terjadi multidrug-resistant TB, dan penurunan pelayanan kesehatan pada penderita TB.

Diagnosis

Definisi TB kongenital adalah TB yang terjadi pada bayi berusia 1-84 hari

Tanda dan Gejala

TB kongenital baru akan menimbulkan gejala pada usia 2-3 minggu
– Demam
– Gagal tumbuh
– Letargi
– Iritabel
– Toleransi minum buruk
– Distensi abdomen

– Pembesaran kelenjar
– Berat badan menurun
– Hepatosplenomegali
– Distres respirasi
– Ear discharge
– Apnea
– Ikterus
– Berat badan lahir rendah, prematur
– Tanda-tanda pada sistem saraf pusat

Pemeriksaan laboratorium
– Kebanyakan kasusnya bersifat asimtomatik atau dengan gejala minimal
– Pada setiap bayi yang dicurigai menderita TB kongenital atau terinfeksi tuberkulosis perinatal, dianjurkan dilakukan uji tuberkulin PPD meskipun hasilnya bisa negatif kecuali kalau infeksi sudah berlangsung selama 4-6 bulan.
– Pemeriksaan plasenta (PA, mikrobiologis-BTA dan biakan TB)
– Bila selama evaluasi klinis terdapat limfadenopati, lesi kulit atau ear discharge, lakukan pemeriksaan mikrobiologis dan atau PA.
– Bila perjalanan klinis terdapat hepatomegali, lakukan pemeriksaan USG abdomen,
jika ada lesi di hati lakukan biopsi hati.
– Bila bayi terbukti menderita TB kongenital, lakukan penanganan sebagai TB kongenital
(lihat penanganan TB kongenital)
– Foto dada, menunjukan adanya adenopati atau infiltrat atau berupa bentuk milier.
– Pemeriksaan BTA (basil tahan asam) pada cairan lambung.
– Lumbal pungsi bila indikasi ke arah TB milier atau meningitis TB.

Penanganan

– Bila ibu menderita tuberkulosis paru aktif dan mendapat pengobatan kurang dari 2
bulan sebelum melahirkan, atau didiagnosis menderita TB setelah melahirkan:
– Jangan diberi vaksin BCG segera setelah lahir
– Beri profilaksis isoniazid (INH) 5 mg/kg sekali sehari peroral
– Pada usia 8 minggu lakukan evaluasi kembali, catat berat badan dan lakukan tes
Mantoux dan pemeriksaan radiologi bila memungkinkan:
– bila ditemukan kecurigaan TB aktif, mulai berikan pengobatan anti-TB lengkap
(sesuaikan dengan program pengobatan TB pada bayi dan anak)
– bila keadaan bayi baik dan hasil tes negatif, lanjutkan terapi pencegahan dengan
INH selama 6 bulan.
– Kortikosteroid diberikan apabila terdapat meningitis TB.
– Apabila terjadi resisten multiobat (MDR=multidrug resistant) berikan 4 macam obat selama 12-18 bulan.
– Tunda pemberian vaksin BCG sampai 2 minggu setelah pengobatan selesai. Bila vaksin BCG sudah diberikan, ulang pemberiannya 2 minggu setelah pengobatan INH selesai.
– Yakinkan ibu bahwa ASI tetap boleh diberikan, dan sarankan ibu untuk menggunakan masker.
– Lakukan tindak lanjut terhadap bayinya tiap 2 minggu untuk menilai kenaikan berat bayi.

Pemantauan

Bila ibu baru terdiagnosis setelah melahirkan atau belum diobati
– Semua anggota keluarga harus diperiksa lebih lanjut untuk kemungkinan terinfeksi.
– Bayi diperiksa foto dada dan tes PPD pada usia 4-6 minggu
– Ulang tes PPD pada usia 4 bulan dan 6 bulan.
– Bila hasil tes negatif pada usia 4 bulan dan tidak ada infeksi aktif di seluruh anggota keluarga; pemberian INH dapat dihentikan, pemberian ASI dapat dilanjutkan, dan bayi tidak perlu dipisahkan dari ibu.
Bila ibu tidak mengalami infeksi aktif, sedang dalam pengobatan, hasil pemeriksaan sputum negatif dan hasil foto dada stabil:
– Foto ulang ibu pada 3 dan 6 bulan setelah melahirkan, dan yakinkan ibu tetap minum obat.
– Periksa anggota keluarga lain
– Bayi diperiksa tes tuberkulin PPD pada usia 4 bulan; bila hasilnya negatif, sputum ibu negatif, dan anggota keluarga lain tidak terinfeksi, hentikan pemberian INH.
– Ulang pemeriksaan tuberkulin PPD pada usia 6,9, dan 12 bulan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s