Permasalahan Induksi Pada Persalinan

image

Permasalahan Induksi Pada Persalinan

Bila ibu sudah mengandung lebih dari 41 minggu, namun bayi belum juga lahir, mungkin harus dilakukan pertimbangan medis untuk menginduksi kandungan. Persalinan dengan induksi adalah salah satu cara untuk mempercepat kelahiran secara normal.

Induksi persalinan adalah suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan, yaitu dari tidak ada tanda-tanda persalinan, kemudian distimulasi menjadi ada dengan menimbulkan kontraksi atau his. Cara ini dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah keluarnya bayi dari rahim secara normal.

Jika pada kehamilan tua ibu sudah merasa sangat tidak nyaman dan ingin segera melahirkan dengan cara diinduksi, maka keadaan mulut rahim menjadi hal penting untuk dijadikan pertimbangan. Induksi akan bermanfaat ketika mukut rahim telah menipis sekitar 50 persen dan berdilatasi 3-4 cm. Hal ini karena tubuh telah siap untuk menghadapi proses persalinan. Selain itu, secara statistik fase ini lebih aman untuk melahirkan pervaginam. Jika mulut rahim belum cukup menipis dan berdilatasi, itu tandanya tubuh belum siap untuk melahirkan. Melakukan induksi dan melahirkan pervaginam bukan hal yang tepat pada keadaan demikian, karena kemungkinan besar persalinan akan diubah menjadi caesar.

Umumnya, meski tak ada catatan medis yang membuat suatu kehamilan diinduksi, menunggu janin lahir spontan adalah hal terbaik. Karena kita tidak tahu keadaan janin, mulut rahim berada pada fase apa, apakah ada kemungkinan terjadi perubahan posisi pada janin atau tidak, maka melakukan induksi adalah hal yang beresiko. Kita hanya mengganggu proses alami suatu persalinan. Sebagai akibatnya, bayi mungkin belum berada pada posisinya dan tubuh ibu ternyata belum siap untuk melahirkan. Dua keadaan itu meningkatkan dilakukannya operasi caesar pada kehamilan yang diinduksi.

Indikasi atau Pertimbangan dilakukan Induksi

image

  1. Kondisi medis ibu : ibu mengalami tekanan darah tinggi (preeklamsia) dan diabetes gestasional (kadar gula darah tidak terkontrol) adalah kondisi yang membuat ibu harus di induksi segera. Kelahiran merupakan satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu
  2. Pertimbangan bayi : Terdapat keadaan yang mengancam keselamatan janin jika terlalu lama didalam kandungan, diantaranya oligohidramnion (air ketuban sediki), IUGR (Intrauterine Growth Retardation-hambatan pertumbuhan janin), atau janin lewat waktu. Jika ibu merasakan pergerakan janin yang lemah, dan itu disadari pula oleh dokter, meski beberapa pemeriksaan normal, kadang tetap akan melakukan induksi.
  3. Selaput ketuban telah pecah : Sekitar 10% kehamilan akan mengalami pecah ketuban sebelum kontraksi. Jika itu terjadi, ibu dan bayi beresiko terhadap infeksi. Belum ada kesepakatan berapa lama induksi harus dilakukan setelah ketuban pecah, tergantung dari kebijakan rumah sakit masing-masing. Namun, usahakan bayi segera lahir setidaknya 24 jam setelah ketuban pecah.
  4. Kehamilan lewat waktu: setelah kehamilan berusia 41 minggu (atau 7 hari melebihi waktu seharusnya), akan meningkatkan resiko komplikasi pada bayi. Maka dari itu, induksi dibutuhkan. Sedangkan jika kehamilan sudah 42 minggu, atau 14 hari setelah waktu seharusnya, kemungkinan bayi meninggal semakin besar. Karena pada saat itu terjadi penurunan fungsi plasenta. Plasenta memiliki waktu   sampai akhir minggu ke-42 untuk berfungsi dengan baik. Induksi dibolehkan pada kehamilan 40-42 minggu tergantung keadaan, riwayat kehamilan, dan keputusan dokter secara pribadi.
  5. Jika kehamilan lewat waktu . Jika kehamilan lewat 40 minggu  dokter akan melakukan pemeriksaan non-invasif dan profil biofisika untuk mengetahui apakah janin dalam keadaan stres atau tidak. Apabila keadaan janin baik, dapat meneruskan kehamilan sampai kelahiran spontan. Namun jika selama menanti kelahiran spontan itu terjadi masalah, misalnya pergerakan janin melemah akibat kurangnya cairan ketuban, maka induksi akan di lakukan. Keadaan penipisan dan pembukaan mulut rahim saat induksi akan dilakukan merupakan faktor penting yang menentukan apakah prosentase keberhasilan induksi.
  6. ketuban pecah dini .. Bila ketuban sudah pecah sebelum waktunya namun persalinan belum juga dimulai
  7. Tekanan darah tinggi.Tekanan darah ibu tinggi , eklamsi atau preeklamsi. Bila ibu mengalami tekanan darah tinggi yang semakin memburuk khususnya preeklamsi dan eklamsi.
  8. Penderita diabetes. Bila ibu mengidap penyakit diabetes yang tidak dapat dikendalikan
  9. Bayi IUGR atau pertumbuhan janin terhambat. . Bila ada tanda-tanda pertumbuhan bayi yang kurang baik
  10. Penyakit Herpes. Pada keadaan ibu dengan penyakit herpes, jika persalinan sudah hampir tiba, dan ibu menginginkan persalinan pervaginam, maka keadaan ini boleh di induksi. Persalinan pervaginam dengan herpes yang aktif sangat berbahaya bagi bayi. Ibu hamil tidak merasakan adanya kontraksi atau his. Padahal kehamilannya sudah memasuki tanggal perkiraan lahir bahkan lebih (sembilan bulan lewat).
  11. Indikasi medis lainnya. Bila ada pertimbangan medis lainnya yang mengharuskan bayi segera dilahirkan.

Teknik Induksi

image

  1. Mematangkan mulut rahim (serviks). Biasanya, mulut rahim mulai menjadi lembut, melebar, dan  memendek sebelum persalinan dimulai. Proses ini disebutripening atau pematangan mulut rahim. Namun bila proses ini belum terjadi, tim medis dapat menggunakan jel yang menggandung hormon prostagladin E2 dan dioleskan melalui vagina. Cara lain adalah menempatkan tabung karet yang ada balonnya pada serviks. Mematangkan serviks sangatlah penting sebelum melakukan induksi.
  2. Memecahkan ketuban. Bila serviks sudah matang dan ketuban belum pecah, makan tim dokter akan memecahkan membran ketuban. Caranya sederhana, yaitu dengan memasukkan alat khusus melalui vagina, sehingga membran ketuban pecah. Pada umumnya bila serviks sudah matang, persalinan akan terjadi 12 jam setelah ketuban pecah.
  3. Memulai kontraksi buatan. Untuk membuat kontraksi pada rahim, tim dokter akan memberikan obat yang disebut oxytocin. Obat ini akan membantu persalinan dengan induksi karena mirip dengan hormon alami yang memacu kontraksi. Oxytocin diberikan melalui infus dan dipantau dosisnya agar sesuai dengan kebutuhan. Pada umumnya kontraksi akan mulai dirasakan dalam waktu 30 menit setelah infus ini. Bila setelah 6-8 jam belum juga ada kemajuan, berarti persalinan dengan induksi gagal, dan dokter kemungkinan akan mengambil tindakan caesar.

Komplikasi dan Resiko Buruk Induksi

  • Adanya kontraksi rahim yang berlebihan. keadaan inilah yang mengharuskan induksi harus dilakukan dalam pengawasan yang ketat dari dokter yang menangani. Jika Anda merasa tidak tahan dengan rasa sakit yang ditimbulkan, biasanya dokter akan menghentikan proses induksi,kemudian akan dilakukan operasi caesar.
  • Janin akan merasa tidak nyaman. Sehingga dapat membuat bayi mengalami gawat janin (fetal disterss). Itu sebabnya selama proses induksi berlangsung, dokter akan memantau gerak janin melalui CTG/kardiotopografi. Bila dianggap terlalu berisiko menimbulkan gawat janin, proses induksi akan dihentikan.
  • Dapat merobek bekas jahitan operasi caesar. Hal ini bisi terjadi pada yang sebelumnya pernah dioprasi caesar, lalu menginginkan kelahiran normal.
  • Emboli. Meski kemungkinannya sangat kecil sekali, namun tetap harus diwaspadai. Emboli terjadi apabila air ketuban yang pecah masuk ke pembuluh darah dan menyangkut di otak ibu atau paru-paru. Bila terjadi dapat merenggut nyawa ibu seketika.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s