Penyebab dan Penanganan Diare Pada Bayi

image

Pada waktu diare pada bayi, ada kemungkinan jonjot usus (villi dan microvilli) mengalami kerusakan yang sifatnya sebagian. Jadi tidak seluruh jonjot usus mengalami kerusakan. Karena itu, gangguan pencernaan dan penyerapan zat gizi bervariasi bergantung pada derajat kerusakannya. Apabila kerusakan jonjot usus bermakna, kemungkinan anak mengalami gangguan pencernaan dan penyerapan zat makanan, terutama laktosa. Gangguan pencernaan dan penyerapan laktosa terjadi karena enzim pemecah laktosa (laktase) yang terletak di jonjot usus hilang. Karena laktosa tidak dapat dicerna dan diserap dengan baik, maka laktosa yang tetap ada di saluran pencernaan menyebabkan tekanan osmosis, sehingga menyerap air ke dalam saluran pencernaan. Penambahan air ini tidak dapat diatasi oleh usus besar yang memang bertugas menyerap air, sehingga tinja menjadi cair. Inilah yang disebut diare.

Penyebab Diare pada Bayi

Bayi yang diare dapat disebabkan karena banyak faktor, antara lain :
– Alergi makanan atau sensitif terhadap makanan tertentu
– Infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri dan parasit. Sebagian besar pennyebab diare adalah virus, yang disebut Rotavirus. Penyebab lainnya seperti bakteri Shigella, Eschericia coli, atau Enterobacter.
– Intoksikasi atau keracunan makanan
– Pada anak dengan hipersensitif saluran cerna bisa terjadi diare sekunder. Diare sekilunder artinya terdapat infeksi diluar saluran cerna seperti ISPA atau infeksi virus lainnya yang ikut mengganggu saluran cerna

Komplikaai

1. Dehidrasi kekurangan cairan
2. Gangguan keseimbangan normal dari air dan garam (elektrolit) pada bayi. Ketika air dan elektrolit hilang dalam jumlah yang banyak (karena diare), bayi akan mengalami dehidrasi..

Tanda-tanda dehidrasi pada bayi :

1. Buang air kecil (BAK) lebih jarang dari biasanya
2. Gelisah atau rewel
3. Mulut kering
4. Tidak ada air mata saat menangis
5. Lesu dan sering mengantuk (diluar kebiasaan)
6. Sunken soft spot (cekung ubun-ubun)
7. Kulit tidak elastis (kulit tidak langsung kembali setelah ditekan atau dicubit)

Harus segera pergi ke dokter atau dirawat jika bayi Anda memiliki gejala-gejala ini :
– Demam lebih dari 38,8 derajat celcius
– Nyeri perut (balita yang sudah bisa mengungkapkan perasaanya)
– Darah atau nanah dalam tinja, atau tinja berwarna hitam, putih atau merah
– Kelesuan
– Muntah-muntah diaertai tanda xehidrasi
– Tidak mau makan bukan indikasi untuk dirawat. Karena sebagian beaar anak dengan diare nafsu makannua akan jauh menurun bahkan seringkali tidak mau makan sama sekali terutama anak dengan riwayat GER atau gastroeaophageal refluks.

Penanganan

1. Penyebab infeksi yang paling sering infeksi virua sehingga tidak perlu antibiotika.
2. Pemberian preparat inc
3. BIla Bayi dinilai dehidrasi sedang atau berat yang mengalami dehidrasi harus mendapatkan cairan infus (intravena/IV) di rumah sakit.
4. Pemberian cairan rehidrasi (pengembali cairan) seperti oralit.
5. Perlukah ganti susu rendah laktoza. Tidak semua diare menyebabkan intoleransi laktosa. Tidak semua anak yang diare, susunya perlu diganti. Diare ringan tidak perlu mengganti susu. Anak dengan intoleransi laktosa yang nyata memerlukan susu bebas laktosa untuk sementara. jika anak sudah sembuh, dokter akan mengatur kembali ke susu sebelumnya, karena kerusakan jonjot usus akibat diare bersifat sementara. Jika diare ringan kerusakan jonjot usus tidak berat, ada kemungkinan laktosa tetap mengalami gangguan pencernaan dan penyerapan. Namun laktosa yang lolos dari usus halus masih dapat dicerna oleh bakteri yang ada di usus besar menjadi asam lemak untuk energi sel usus besar. Gangguan pencernaan dan penyerapan laktosa ini tidak sampai menyebabkan diare. Menurut istilah medis, keadaan seperti ini disebut maldigestidan malabsorpsi laktosa. Sebaiknya tidak disarankan mengencerkan susu. Pelarutan susu seharusnya tetap seperti yang dianjurkan oleh pabrik. Pengenceran susu, atau lebih jelasnya mengencerkan susu lebih dari yang dianjurkan bahkan menambah air lebih banyak menyebabkan kandungan semua zat gizi dalam susu menjadi turun. Penurunan zat gizi menyebabkan anak mendapatkan gizi yang kurang, sehingga anak menderita kekurangan gizi. Padahal, selama anak sakit justru memerlukan zat gizi lebih banyak. Kurang gizi menyebabkan diare lama sembuh atau berlangsung lebih lama.
6. Anak diare tidak perlu memantang makanan kecuali pada bayi dengan riwayat alergi, karena makanan diperlukan anak sehat maupun sakit. Tetapi pada penderita dengan riawayat alerginseringkali makanan tertentu memperberat kondisi saluran cernanya. Pada anak alergi bisa diganti makanan yang rendab alergi seperti sayur, daging sapi, buah apel, pepaya, jambu dan sebagainya.
7. Pemberian ASI tetap diteruskan. Penelitian membuktikan bahwa anak diare yang diberi ASI akan lebih pendek masa sakitnya, frekuensi buang air besar lebih jarang, dan anak masih tetap mau menyusu walaupun nafsu makannya menurun. Dengan demikian ASI merupakan sumber zat gizi yang baik selama diare, dan mampu mempercepat sembuhnya diare. Karena itu, jangan berhenti menyusui selama anak diare. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s