Perkembangan Fisiologis Normal Kemampuan Makan Pada Bayi

Perkembangan Fisiologis Normal Kemampuan Makan Pada Bayi

image

Proses mekanis tubuh dalam kegiatan makan pada anak adalah mulai dari makanan masuk ke mulut, melalui tenggorokan dan dicerna di lambung dan saluran cerna lainnya merupakan proses yang kompleks. Secara funsional dibagi dalam 5 fase, meliputi Fase para-oral, oral, esofageal, esofagial dan gastrointestinal.

  1. Fase pra-oral (sebelum mulut) Fase pre-oral diawali ketika anak merasakan sensasi lapar dan haus dengan menangis atau meminta makan kepada orangtua. Setelah makanan tersedia selanjutnya terjadi proses makanan dimasukkan ke dalam mulut.
  2. Fase oral (mulut) Menghisap dan mengunyah untuk membentuk bolus (bentuk makanan setelah proses kunyah dan telan), kemudian bolus di kirim ke faring (tenggorok).
  3. Fase faringeal (tenggorok) Selama pasasi bolus melalui faring, koordinasi yang sempurna antara pernapasan dan menelan merupakan faktor penting untuk mencegah aspirasi. Fase faringeal berlangsung cepat, nafas terhenti sejenak diikuti elevasi faring, penutupan pita suara, sfingter (katup) esofagus atas membuka diikuti terjadi peristaltik atau gerakan faring untuk mengosongkan faring, setelah itu bernafas lagi.
  4. Fase esofagial (kerongkongan) Gerakan peristaltik esofagus dan sfingter esofagus bawah membuka,
  5. Fase gastrointestinal (lambung dan lainnya) Relaksasi reseptif menyebabkan penimbunan bolus dalam lambung, kemudin terjadi pengosongan isi lambung ke dalam usus halus dan penyerap nutrien di saluran cerna.

Pusat rasa lapar dan kenyang terdapat di hipotalamus bagian di otak. Stimulasi berlebihan terhadap pusat lapar akan menimbulkan perilaku makan berlebihan, sedangkan stimulasi terhadap pusat kenyang akan menyebabkan raa kenyang pada anak

Fungsi hipotalamus ialah mengendalikan kuantitas asupan makanan dan merangsang pusat kontrol ang lebih rendah di batang otak yang mengatur salivasi (pengeluaran ludah), mengunyah dan menelan. Pusat otak di atas hipotalamus berperan dalam mengatur nafsu makan terhadap makanan tertentu. Pengalaman yang terjadi pada anak melalui penglihatan, penciuman, perasaan, perabaan, memori dan konsep tentang makanan yang enak memberi kontribusi dalam menyukai makanan tertentu.

Pengalaman yang tidak menyenangkan saat makan menu tertentu, akan terekam di otak sebagai memori yang tidak menyenangkan, Contohnya saat sakit berat diberi makanan sup selanjutnya bila makan sup anak masih teringat pengalaman yang tidak menyenangkan selama sakit terdahulu. Setelah itu anak tidak pernah suka makan sup lagi.

PERILAKU MAKAN PADA BAYI

Kemampuan dan perilaku makan sejak lahir sudah bisa diamati, selanjutnya akan berkembang semakin membaik seiring dengan perkembangan fungsi organ tubuh yang lain khususnya fungsi saluran cerna, kemampuan motorik dan perkembangan lainnya.

Pemberian air susu ibu merupakan proses awal belajar makan pada bayi baru lahir. Bayi baru lahir yang normal mempunyai beberapa reaksi dan refleks terhadap pemberian makan, diantaranya adalah; ”rooting reflex”, mengisap, menelan, kenyang, lapar dan reflex muntah.

REFLEKS ROOTING Pada bayi baru lahir, proses mengisap dan menelan berlangsung secara refleks. Misalnya refleks rooting (mencari) yang distimulasi dengan menyentuh pipi atau bibir bayi mulut bayi akan membangkitkan gerakan kepala ke arah stimulus. Pada saat puting susu ibu dimasukkan ke rongga mulut bayi, refleks rooting membantu mencengkeram puting susu ibu.
REFLEKS MENGHISAP DAN MENELAN Kemampuan makan pada anak sangat tergantung dengan reflek menghisap dan menelan. Kemampuan tersebut dipengaruhi oleh susunan saraf pusat, otot dan jaringan penunjang yang terkait atau koordinasi antara nasofaring dan nasolaring untuk melihat koordinasi antara menelan dan bernapas. Kemampuan tersebut sudah dimiliki oleh bayi sejak lahir, tetapi mungkin pada bayi prematur hal ini belum sempurna.
RASA KENYANG (SATIETY) Rasa kenyang mempengaruhi kemampuan makan pada anak. Bila tubuh sudah tercukupi asupan makanan dalam waktu tertentu maka beberapa organ tubuh merespon dengan mengirim impuls ke susunan saraf pusat (otak), kemudian otak mengirim pesan kembali pada organ tubuh lainnya untuk menunjukkan rasa kenyang sehingga memicu anak untuk berhenti minum atau makan.

Pada beberapa bayi tampak berbeda, meskipun jumlah minum yang diberikan sudah cukup banyak tetapi bayi tetap minta minum terus. Hal ini disebabkan ada rasa tidak nyaman pada pencernaan bayi sehingga kompensasinya minta minum terus padahal bayi sudah kenyang. Pada bayi muda kalau ada rasa tidak enak di badannya, biasanya mereka cenderung mencari kompensasi kenikmatan oral atau seperti minta dot atau minum. Gejala inilah oleh orang tua atau pengasuh dianggap sebagai masih haus atau lapar. Akhirnya bayi diberi minum terus yang berakibat kelebihan minum susu. Sehingga kebiasaan itu mengakibatkan berat badan bayi berlebihan atau kegemukan.

Penyebab yang sering terjadi adalah karena pada bayi tertentu terutama bayi usia di bawah 3 bulan mengalami gastroenteropati, biasanya terjadi pada bayi yang mempunyai bakat alergi. Gastroenteropati adalah gangguan fungsi saluran cerna yang disebabkan karena kekurang matangan (imaturitas) saluran cerna, dengan pertambahan usia gangguan ini akan membaik. Gejala yang ditimbulkan adalah perut kembung, Hiccups (cegukan), sering ngeden (disertai mulet, tangan sering keatas), sering buang angin, perut berbunyi (keroncongan), sering buang air besar atau sulit buang air besar (tidak tiap hari),muntah dan bila keluhan bertambah berat gejalanya malam rewel disertai tangisan histeris atau kolik.

RASA LAPAR ATAU NAFSU MAKAN

Rasa lapar mempengaruhi kemampuan makan pada anak. Bila tubuh mulai kekurangan asupan makanan dalam waktu tertentu maka beberapa organ tubuh merespon dengan mengirim impuls ke susunan saraf pusat (otak), kemudian otak mengirim pesan pada organ tubuh lainnya untuk menunjukkan rasa lapar atau nafsu makan. Dalam keadaan gangguan pada organ tubuh seperti infeksi, atau penyakit lainnya sering menghilangkan rasa lapar ini. Sehingga sangatlah wajar bila seorang anak sedang sakit terjadi kesulitan makan. Bila gangguan tersebut membaik maka kesulitan makan pada anakpun akan membaik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s