KEBIASAAN MAKAN FAST FOOD

BENARKAH FAST FOOD HARUS DIHINDARI ?


Dr Widodo Judarwanto pediatricianCHILDREN ALLERGY CLINIC
PICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN)


Tumbuh dan berkembangnya anak yang optimal tergantung dari beberapa hal, diantaranya adalah pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas. Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna, sering timbul masalah terutama dalam pemberian makanan karena faktor kesulitan makan pada anak.wp-1459732223009.jpg

Pemberian makan pada anak usia sekolah memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Lama kelamaan hal ini dianggap biasa, sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak. Tumbuh kembang dalam usia anak sekolah sangat menentukan kualitas seseorang bila sudah dewasa nantinya.
Dengan penanganan kesulitan makan pada anak usia sekolah yang optimal diharapkan dapat mencegah komplikasi yang ditimbulkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas anak Indonesia dalam menghadapi persaingan di era globalisasi mendatang khususnya dalam mencapai prestasi yang optimal di sekolah.Perilaku makan anak di luar rumah harus diperhatikan dan dicermati. Pada mumnya kebiasaan yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan makan di kantin atau warung di sekitar sekolah dan kebiasaan makan fast food.

KEBIASAAN MAKAN FAST FOODFast food atau makanan siap saji sering disebut juga Junk food sangat disukai anak usia sekolah. Fast food sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya obesitas/kegemukan.

Sudah menjadi gejala umum bila anak menyukai fastfood, karena pada saat makan fastfood anak menyukai tempat yang sejuk, nyaman, dekorasi yang menarik, ada tempat bermain, penyajian cepat serta hadiah mainan yang menarik. Bahkan anak yang biasanya di rumah mengalami sulit makan, tetapi waktu makan di fastfood nafsu makannya meningkat.
Fastfood mengandung kalori, protein, lemak dan sodium yang tinggi. Sementara kandungan vitamin A, C, E, kalsium, zat besi, asam folat serta serat relatif rendah. Seorang anak 5 tahun memilih menu 1 porsi paha goreng (330 kal), kentang goreng (330 kal) dan satu gelas minuman ringan (150 kal) akan mendapatkan 810 kalori; sedangkan kebutuhan energi 1750 kalori, telah memenuhi ½ kebutuhan kalori sehari. Bila hal ini sering dilakukan akan beresiko untuk terjadi kelebihan berat badan atau kegemukan dengan segala manifestasi gangguan seperti gangguan penyakit jantung, hipertensi atau penyakit pembuluh darah lainnya.
Kandungan garam atau sodium tampaknya juga harus menjadi perhatian, karena menurut penelitian kandungan garam tinggi :
§ 1 porsi hamburger mengandung sodium 520 mg
§ ayam goreng mengandung sodium 409 mg
§ kentang goreng kecil mengandung sodium 109 mg
Sodium ini berasal dari MSG(monosodium glutamat)/vetsin/garam. Dalam batas normal anak membutuhkan 200 mg/hari, bila mengkonsumsi 2000 mg / hari, dianggap aman tapi bila jangka panjang akan menimbulkan resiko terjadinya penyakit darah tinggi, penyakit jantung.Kandungan makanan pada fastfood rata-rata 40-60% kalori berasal dari lemak, sedangkan lemak biasanya dikonsumsi hanya 20-25% dari kalori. Lemak didapat dari keju, saus, mayonaese, cream. Serat pada fastfood didapat dari sup dan salad, tetapi gizinya berkurang karena telah mengalami pemanasan dan pendinginan yang terlalu lama.

Berbagai pertimbangan tersebut tampaknya kita harus memahami manfaat dan kerugian mengkonsumsi fastfood bagi anak. Hal lain yang menguntungkan adalah suasana yang menarik di tempat fastfood tersebut sehingga nafsu makan anak meningkat Beberapa ahli gizi berpendapat mengkonsumsi fast food seminggu 1 hingga 2 kali masih dianggap relatif aman. Kalaupun orang tua tidak bisa menolak keinginan anak untuk datang ke fastfood, bisa saja disiasati dengan membawa bekal dari rumah makanan yang lebih sehat sedangkan fastfood yang dipesan bisa dimakan orang tua. Tips yang lain adalah pilih makanan dengan tinggi serat berupa saur segar misalnya salad atau sup sayur dan batasi jumlah makanan dengan kandungan garam dan kalori yang berlebihan..
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s