INFEKSI BAWAAN PADA BAYI BARU LAHIR

Infeksi bawaan masih merupakan masalah yang serius pada bayi baru lahir (BBL). Infeksi juga masih berperan utama dalam angka kesakitan dan angka kematian BBL di Indonesia. Sampai saat ini, memang belum ada data nasional yang akurat mengenai angka kesakitan dan kematian karena infeksi pada BBL. Namun, sejak krisis ekonomi melanda kawasan Asia, termasuk Indonesia, diperkirakan angka kematian bayi cenderung meningkat.

Banyak faktor yang berpengaruh terhadap infeksi BBL. Faktor itu adalah kesehatan ibu yang buruk, infeksi maternal yang tidak diobati, penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, infeksi saluran kemih, korioamnionitis, imunisasi ibu hamil terhadap tetanus yang tidak lengkap, penatalaksanaan persalinan yang belum memadai, pemotongan dan perawatan tali pusat yang tidak steril, serta kegagalan pemberian ASI dini dan eksklusif.

Fungsi imunologis sang bayi yang belum berkembang dengan baik berpengaruh terhadap angka kesakitan dan kematian karena infeksi pada BBL. Terlihatnya cadangan prekursor granulosit yang masih rendah dalam sumsum tulang, masih rendahnya aktivitas komplemen serum, dan masih rendahnya kesanggupan memproduksi antibodi terhadap antigen polisakarida bakteri dan lain-lainnya, merupakan indikasi fungsi imunologis yang belum berkembang dengan baik. Ditambah lagi dengan sedikitnya IgG yang diperoleh dari ibu turut pula berperan.

Kontak dengan Organisme Patogenik

Infeksi yang terjadi pada BBL , tambah Rachma, dapat pula disebabkan oleh kontak bayi dengan organisme yang potensial patogenik. Mekanismenya terbagi dalam tiga kategori, pertama, Infeksi Intrauterin (transmisi melalui plasenta). Kedua, infeksi saat persalinan. Ketiga, infeksi pascanatal yang berasal dari ibu setelah melahirkan, dari lingkungan, dan rumah sakit.

Ibu yang mengidap cytomegalovirus, toxoplasmosis, HIV (Human Immunodeficiency Virus), rubella, hepatitis, herpes simplex, syphylis, bakteri, dan lain-lain, tentu dapat menular ke janin/bayi pada intranatal. Bila infeksi terjadi pada ibu sebelum konsepsi atau pada masa perinatal, kata Rachma, dampaknya akan terjadi sekaligus kepada ibu, janin, dan bayi yang baru lahir.

Masalah yang mungkin terjadi karena hal itu adalah terserapnya mudigah yang telah terbentuk, keguguran, lahir mati, cacat bawaan, retardasi pertumbuhan janin dalam kandungan, prematuritas. Walau demikian, bisa juga terjadi bayi tidak tampak sakit atau bayi normal.

Penegakkan diagnosis infeksi pada ibu hamil secara klinis tidak mudah. Sebab, gejalanya tidak selalu dapat dilihat dan dirasakan oleh ibu hamil. Diagnosis secara klinis dan laboratoris perlu pula dilakukan terhadap ibu hamil dan BBL. Beberapa pemeriksaan yang diperlukan untuk diagnosis infeksi intrauterin antara lain pemeriksaan serologis (toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, herpes simplex, syphilis, dan HIV) serta pemeriksaan antigen (toksoplasma-hepatitis).

Uji Saring Ibu Hamil

Bila bayi yang baru lahir mengalami gejala seperti purpura, kuning, hepatosplenomegali, trombositopenia. Gejala itu, menurut Rachma, mengindikasikan bayi terjangkit infeksi TORCH (toxoplasma, other, rubella, cytomegalovirus dan herpes simplex). Untuk mencegah penyakit tersebut diderita BBL, disarankan untuk mulai melakukan uji saring pada ibu hamil atau prakonsepsi pada golongan ibu resiko tinggi.

Hal tersebut perlu dilakukan agar angka kesakitan dan angka kematian serta cacat bawaan dapat diturunkan. Wanita hamil yang terinfeksi TORCH dapat mengalami keguguran, dan menderita cacat bawaan.

Selain itu, pencegahan infeksi dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi aktif pada ibu hamil, dan kepada BBL. Salah satunya adalah pemberian imunisasi hepatitis B pada BBL. Pemberian vaksin ini sangat efektif untuk memblokir transmisi hepatitis B ke bayi dari ibu karier kronik hepatitis B (HbsAg positif).

American Academics of Paediatrics Committee on Infectious Diseases (1994) menganjurkan, imunisasi hepatitis B sebaiknya diberikan 3 kali secara serial bersama-sama dengan pemberian HBIG pada bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg positif. Dengan cara ini, 86 persen bayi mempunyai kadar antibodi yang tinggi terhadap HbsAg selama 60 bulan setelah lahir. Wanita hamil agar tidak melakukan kontak dengan penderita penyakit menular juga merupakan upaya untuk mencegah infeksi bawaan. 

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.

 

About these ads

Tentang The Children Indonesia

WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL CHILDREN. Advancing of the future children to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult
Tulisan ini dipublikasikan di INFEKSI BAWAAN. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s